26 August 2008

Harapankami

Tangannya menengadah, berbisik perlahan.
Dengan kesungguhan.
Dengan keyakinan.
Kokok ayam masih jarang dikejauhan.
Duduk bersimpuh, bersarung diatas hamparan sajadah berwarna kemerahan.
Pudar.
Ia masih belum beranjak, sudah lama….
Mulutnya berkomat-kamit kemudian diam.
Diusap muka dengan kedua tangan.
Dibelakang, disamping bale berjajar.
Tampak diatasnya tergolek dua anak kecil.
Mereka masih terlelap. Tenang.
Ia berdiri.
Kepalanya berputar seirama jarum jam.
Perlahan.
Ditatapnya satu persatu mereka.
Seakan sanggup memberikan kekuatan untuk berharap hari ini….
Ia sudah bersiap.
Berangkat dengan keyakinan diri, istri dan anak-anakanya.
Seperti burung keluar dari sarang.
Untuk mengarungi hari ini……………..
Matahari baru saja terbit memenuhi janjinya.
Peluh berjatuhan dari dagu, berkejaran melewati wajah lelah.
Didekapnya map biru serta isinya dengan kuat.
Seperti ia mendekap harapan.
Mendekap kenyataan.
Sepeda berdiri dengan standar yang setia bersama.
Setia menunggu.
Gerbang pabrik masih rapat.
Hanya celah sebatas tatapan mata untuk berkomunikasi memberikan gambaran.
Masih hening, lengang.
Ia menunggu dengan sabar.
Lama…
Orang-orang mulai berdatangan.
Masih beberapa lama lagi.
Semakin lama semakin banyak.
Hingga ia tidak merasa sendiri lagi.
Pondok Aren, 25 Agustus 2008

No comments: