Sebutan konsultan desain produk memang tidak sepopuler jasa konsultan desain grafis maupun jasa konsultan lain. Karena itu, Iman Setiobudy berusaha keras memperkenalkan industri yang masih muda ini kepada masyarakat.Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan mobil Xenia dan Avanza. Betul, ada banyak mobil Xenia dan Avanza yang masih tampil dengan penampilan standar. Namun, kini, banyak pula pemilik “mobil sejuta umat” tersebut yang telah memodifikasi mobilnya dengan aneka aksesori.
Tren ini ternyata telah memberikan rezeki melimpah kepada para desainer aksesori mobil? Salah satunya adalah Iman Setiobudy. Pria kelahiran Banyuwangi, 25 Januari 1968 ini turut andil dalam mendesain aksesori kedua mobil tersebut. “Saya membuat desain beberapa aksesori, seperti pijakan kaki, penahan bemper depan, penahan lumpur dan lainya,” kisah Iman, bangga.
Iman adalah seorang konsultan desain produk. Selain itu, ia juga termasuk orang yang pertama kali mengembangkan desain produk menjadi sebuah hasil industri. Iman juga termasuk orang pertama yang mendirikan perusahaan konsultan desain produk. Ia memulai bisnisnya di 2003. “Saat itu belum ada perusahaan yang benar-benar fokus sebagai konsultan produk. Kebanyakan masih bekerja free lance atau sekaligus memproduksi desainnya,” tuturnya.
Iman terdorong membangun perusahaan konsultan desain produk karena melihat celah yang begitu luas dalam industri ini. Iman memilih mendirikan perusahaan konsultan khusus untuk otomotif. Alasannya sederhana, Iman pernah bekerja di bidang otomotif selama sembilan tahun. Karena tekadnya sudah bulat, Iman pun memutuskan keluar dari perusahaan penyedia aksesori untuk sebuah perusahaan otomotif, tempatnya bekerja.
Lantas, bersama salah seorang rekan, Iman mendirikan PT IXI Indodesain. Nama IXI merupakan singkatan Imajinasi, Ekspresi, dan Indonesia. “Saya ingin menggali desain-desain lokal Indonesia yang kaya guna diangkat dalam sebuah desain produk,” tuturnya. Tapi ternyata perusahaan Iman tidak bisa langsung beroperasi. Butuh waktu satu tahun sampai nama IXI Indodesain secara resmi berbadan hukum sebagai perusahaan konsultan.
Setelah itu, kerja keras Iman pun dimulai. Iman harus rela berkeringat pergi keliling menawarkan ide-ide desainnya. Selain itu, Iman juga merogoh kocek yang tidak sedikit. Pasalnya, “Di awal memulai bisnis kita tidak bisa hanya menjajakan gambar desain, tetapi juga harus memiliki model yang telah jadi,” jelasnya.
Iman mengatakan untuk satu buah model lengkap ia harus menyiapkan uang sekitar Rp 7 juta. Iman menggunakan uang tabungan selama bekerja sebagai modal. Keluarganya juga membantu menggenapi modal yang dibutuhkan. Untungnya, Iman sudah memiliki jaringan yang didapat saat ia bekerja di tempat lama. Selain itu, karena hubungannya dengan para klien dari bekas kantornya cukup baik, desain Iman relatif mudah diterima.
Dalam dua tahun, Iman bersama PT IXI Indodesain telah menerima 10 proyek desain produk. Jumlah yang lumayan. Jumlah itu pun sedikit demi sedikit makin meningkat. Pria yang pernah menyabet juara 1 The Panther Challenge 1993, juara 5 desain LG tahun 1995, dan juara 2 desain merek tahun 1996 ini bisa dibilang pernah menangani desain produk untuk hampir seluruh ATPM yang ada di Indonesia. “Toyota, Nissan, Yamaha, Peugeot sudah. Tapi mobil jenis sedan belum pernah saya tangani,” katanya.
Iman sendiri mengaku menikmati profesinya sekarang. Maklum saja, profesi ini memang cukup menjanjikan. Apalagi, nilai karya dari sebuah desain saja, kadang-kandang sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup selama sebulan penuh. Iman bilang, sebuah desain bisa dihargai minimal Rp 5 juta per proyek. Padahal. “Satu mobil itu kan tidak mengerjakan satu desain aksesori saja. Saya pernah mengerjakan tujuh desain untuk satu mobil Xenia yang nilainya mencapai Rp 140 juta,” tuturnya.
Nah, kalau di awal berbisnis dulu Iman harus menjajakan desain secara door to door, kini bisnisnya sudah lebih stabil. Ia telah memiliki pelanggan tetap, di antaranya Daytona Asia dan Dasawindu Agung. Tapi hal itu tidak membuat Iman puas begitu saja. Dia berharap bisa membangun IXI Indodesain menjadi perusahaan konsultan yang mampu menghasilkan desain untuk semua industri. Kini, Iman memperluas bisnisnya. Ia tidak lagi hanya mengerjakan desain produk otomotif, tapi juga menerima pembuatan desain grafis serta desain furnitur.
Sumber: weekend.kontan.co.id
20 January 2011
09 January 2011
Rhenald Kasali: Kenshusei
MINGGU, 28 November 2010, temperatur di Osaka
menunjuk angka 11 dalam hitungan Celcius tatkala matahari bersinar menembus
langit biru kota
dagang ini.
Hari itu ratusan anak-anak muda asal Indonesia
berkumpul di Higashi
Sumiyoshi City
Hall . Usia mereka berkisar antara 25 sampai 35
tahun. Pukul 09.00,Konsul Republik Indonesia di Osaka, Ibnu Hadi, membuka
pertemuan dengan singkat. Dia mengajak anak-anak muda itu menjadi wirausaha
untuk membangun negeri. Siapakah anak-anak muda itu? Mereka itulah rombongan
yang di Jepang dikenal dengan
sebutan 'kenshusei' atau pekerja magang. Kulit mereka legam,tangan mereka
keras.
Pertanda biasa bekerja di lapangan. Sepanjang satu hari itu tak seorang pun
terlihat mengantuk. "Bekerja di sini dituntut berdisiplin, " ujar
seorang di antara mereka. Adalah Asa Perkasa, GM Garuda Indonesia Osaka yang mengajak
saya dan tim instruktur Rhenald Kasali School
for Entrepreneurs (RKSE) bertandang ke kota
dagang ini. Setahun lalu dia membujuk saya membantu para kenshusei itu keluar
dari tradisi bekerja agar mau menjadi wirausaha.
Garuda Indonesia
sendiri berkepentingan dengan mereka karena merekalah pelanggan setia
airlinesnasional ini. Kalau mereka berbisnis di Indonesia yang ada hubungan dengan
Jepang, sudah pasti Garuda pula yang dicari. Demikian pula BNI dan Bank Indonesia .
BNI berkepentingan sehingga mendukung program ini karena mereka juga nasabah
BNI untuk remittance ke Indonesia .
Beban Negara
Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air saya sempat berbincangbincang dengan
rombongan sekitar 27 orang kenshusei asal Jawa Barat yang kebetulan satu
pesawat. Mereka ini baru saja menyelesaikan program selama tiga tahun di atas
kapal. Kerjanya menangkap dan membersihkan ikan di perairan Jepang. Setiap hari
mereka memancing dan menebar jala. "Berapa uang yang kalian bawa
pulang?" tanya saya menyelidik. "Kalau rajin dan tak boros lumayan
Pak,"jawab mereka.
Yang dimaksud lumayan itu adalah Rp400–500 juta, hasil keringat selama
tiga tahun bekerja. Jelas lumayan buat lulusan SMU yang masih membujang. Bagi
yang boros, paling-paling hanya membawa pulang pengalaman plus uang saku
sekitar Rp50 juta. Lantas uangnya dipakai untuk apa? Di antara mereka juga ada
sarjana. Dari berbagai ungkapan perasaan mereka di internet, saya membaca
ternyata sebagian besar kenshusei memilih menjadi pekerja kembali di Tanah Air,
atau bolak-balik ke kedutaan mengurus visa agar bisa kembali bekerja di Jepang.
Ada satu dua
orang yang membuka bengkel atau toko handphone. Tetapi kisah yang disampaikan
adalah kisah-kisah kegagalan. Usaha yang mereka bangun tidak berhasil, dan
jadilah mereka pengangguran dengan seribu satu umpatan kegagalan. Anak-anak
muda yang sudah dilatih dengan penuh disiplin ini kembali menjadi beban bagi
negara. Padahal sebagian besar mereka mampu berbahasa Jepang dengan lebih baik.
Disiplin yang mereka miliki juga di atas rata-rata karena mereka bekerja dengan
pemilik usaha yang juga petani, nelayan, atau UMKM Jepang. Kalau malas mereka
langsung dipulangkan. Mereka ini berpotensi besar bukan sekadar menjadi
entrepreneur biasa,melainkan technopreneur. Ya, technopreneur. Di Jepang mereka
biasa melihat dan bekerja dengan orang-orang yang sangat pragmatis, simpel,
problem solver, dan inovator. Begitu ada masalah, mereka segera pecahkan dan
buatkan alatnya.
Alat-alat itu mereka patenkan dan dipasarkan secara luas. Saya masih ingat,
malam itu Konsul Jenderal Ibnu Hadi memperkenalkan kami dengan seorang inventor
yang membutuhkan mitra usaha di Indonesia .
Kebetulan di RKSE banyak mendidik calon-calon wirausaha dan yayasan yang kami
kelola tertarik menangani kegiatan yang berhubungan dengan tema lingkungan dan
recycle. Hanya saja, bahasa Inggris mereka sulit kami tangkap. Sekarang
bayangkan kalau para kenshusei itu bisa kita bentuk menjadi usahawan-usahawan
baru. Saya kira mereka akan berhasil kalau mendapatkan bimbingan yang tepat.
Kenshuseipreneur
Rekan saya, Sunaryo Suhadi, seorang wirausaha senior, pemilik usaha di bidang
energi dengan aset sebesar Rp12 triliun di Jawa Timur, sudah
gatal ingin segera menangani anak-anak muda ini. Dia menawarkan
"virus" kewirausahaan, yang kalau terjangkit biasanya membuat mereka
yang mengikuti pelatihan ini tak bisa tidur.Sore harinya,anakanak muda yang
kami beri nama kenshuseipreneur ini mengaku jantungnya sudah berdegup keras dan
ingin segera memulai.
Tetapi kami selalu mengingatkan pentingnya menaklukkan diri sendiri dan memulai
usaha dari kecil. Bukan langsung menggelontorkan uang ratusan juta. Semua harus
dimulai dengan kejelian dan waktu belajar yang cukup. Sebab, setiap permulaan
itu pasti sulit dan butuh keuletan. Di RKSE, setiap alumnus dibimbing bukan
hanya oleh para mentor, melainkan juga sesama alumnus yang sekarang bisnisnya
mulai kelihatan. Ketika kewirausahaan telah menjadi topik yang hot,di luar sana
tentu ada ribuan predator yang siap "menerkam"mereka dengan janji
yang muluk-muluk.
Belum lagi janji-janji instan dan "cara cepat menjadi kaya" yang
belakangan banyak sekali Anda temui di toko-toko buku, internet, dan tawaran
sehari-hari via Facebook,
SMS,dan sebagainya. Saya selalu mengingatkan berhati-hatilah terhadap
penipupenipu yang memberi janji sangat indah seperti itu. Sebab, bila seorang
(penipu) yang berpengalaman bertemu dengan seorang yang punya uang selalu akan
terjadi pertukaran: yangpunya uangakanmendapatkan pengalaman (yaitu tertipu)
dan yang punya pengalaman akan mendapatkan uang si tertipu.
Kenshusei masih sangat muda. Menurut pembina mereka, setiap tahun ada sekitar
4.000 orang yang magang bekerja di Jepang. Jumlah ini tentu masih sedikit,
tetapi sangat berarti untuk membangun Indonesia . Di Pulau Bali, setiap
tahun ada 40.000 orang turis asal Jepang yang berlibur dan sebagian memilih
tinggal dan bekerja di sana .
Mereka butuh penerjemah dan merasa nyaman bila dikelilingi orang-orang yang
mampu berbicara dalam bahasa mereka.
Saat ini para pensiunan Jepang sedang berada dalam tekanan ekonomi biaya tinggi
sehingga jutaan di antara mereka tengah mencari tempat untuk mengisi hari tua
mereka di negeri lain yang biaya hidupnya lebih murah. Saya mendengar, Pemerintah Filipina , Vietnam ,
dan Taiwan
telah memberi mereka lokasi beserta fasilitasfasilitasn ya, lengkap dengan visa
yang berdurasi panjang untuk para manula berkantong tebal ini. Saya mendengar
pula mereka sudah lama menanyakan Indonesia . Andaikan kenshuseiini
bisa kita bentuk menjadi usahawan, dan mereka terpanggil untuk berubah, maka
jalan pun terbuka lebar.Asalkan sabar dan pemerintah mendukungnya. (*)
* RHENALD KASALI, Ketua Program MM UI
menunjuk angka 11 dalam hitungan Celcius tatkala matahari bersinar menembus
langit biru kota
dagang ini.
Hari itu ratusan anak-anak muda asal Indonesia
berkumpul di Higashi
Sumiyoshi City
Hall . Usia mereka berkisar antara 25 sampai 35
tahun. Pukul 09.00,Konsul Republik Indonesia di Osaka, Ibnu Hadi, membuka
pertemuan dengan singkat. Dia mengajak anak-anak muda itu menjadi wirausaha
untuk membangun negeri. Siapakah anak-anak muda itu? Mereka itulah rombongan
yang di Jepang dikenal dengan
sebutan 'kenshusei' atau pekerja magang. Kulit mereka legam,tangan mereka
keras.
Pertanda biasa bekerja di lapangan. Sepanjang satu hari itu tak seorang pun
terlihat mengantuk. "Bekerja di sini dituntut berdisiplin, " ujar
seorang di antara mereka. Adalah Asa Perkasa, GM Garuda Indonesia Osaka yang mengajak
saya dan tim instruktur Rhenald Kasali School
for Entrepreneurs (RKSE) bertandang ke kota
dagang ini. Setahun lalu dia membujuk saya membantu para kenshusei itu keluar
dari tradisi bekerja agar mau menjadi wirausaha.
Garuda Indonesia
sendiri berkepentingan dengan mereka karena merekalah pelanggan setia
airlinesnasional ini. Kalau mereka berbisnis di Indonesia yang ada hubungan dengan
Jepang, sudah pasti Garuda pula yang dicari. Demikian pula BNI dan Bank Indonesia .
BNI berkepentingan sehingga mendukung program ini karena mereka juga nasabah
BNI untuk remittance ke Indonesia .
Beban Negara
Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air saya sempat berbincangbincang dengan
rombongan sekitar 27 orang kenshusei asal Jawa Barat yang kebetulan satu
pesawat. Mereka ini baru saja menyelesaikan program selama tiga tahun di atas
kapal. Kerjanya menangkap dan membersihkan ikan di perairan Jepang. Setiap hari
mereka memancing dan menebar jala. "Berapa uang yang kalian bawa
pulang?" tanya saya menyelidik. "Kalau rajin dan tak boros lumayan
Pak,"jawab mereka.
Yang dimaksud lumayan itu adalah Rp400–500 juta, hasil keringat selama
tiga tahun bekerja. Jelas lumayan buat lulusan SMU yang masih membujang. Bagi
yang boros, paling-paling hanya membawa pulang pengalaman plus uang saku
sekitar Rp50 juta. Lantas uangnya dipakai untuk apa? Di antara mereka juga ada
sarjana. Dari berbagai ungkapan perasaan mereka di internet, saya membaca
ternyata sebagian besar kenshusei memilih menjadi pekerja kembali di Tanah Air,
atau bolak-balik ke kedutaan mengurus visa agar bisa kembali bekerja di Jepang.
Ada satu dua
orang yang membuka bengkel atau toko handphone. Tetapi kisah yang disampaikan
adalah kisah-kisah kegagalan. Usaha yang mereka bangun tidak berhasil, dan
jadilah mereka pengangguran dengan seribu satu umpatan kegagalan. Anak-anak
muda yang sudah dilatih dengan penuh disiplin ini kembali menjadi beban bagi
negara. Padahal sebagian besar mereka mampu berbahasa Jepang dengan lebih baik.
Disiplin yang mereka miliki juga di atas rata-rata karena mereka bekerja dengan
pemilik usaha yang juga petani, nelayan, atau UMKM Jepang. Kalau malas mereka
langsung dipulangkan. Mereka ini berpotensi besar bukan sekadar menjadi
entrepreneur biasa,melainkan technopreneur. Ya, technopreneur. Di Jepang mereka
biasa melihat dan bekerja dengan orang-orang yang sangat pragmatis, simpel,
problem solver, dan inovator. Begitu ada masalah, mereka segera pecahkan dan
buatkan alatnya.
Alat-alat itu mereka patenkan dan dipasarkan secara luas. Saya masih ingat,
malam itu Konsul Jenderal Ibnu Hadi memperkenalkan kami dengan seorang inventor
yang membutuhkan mitra usaha di Indonesia .
Kebetulan di RKSE banyak mendidik calon-calon wirausaha dan yayasan yang kami
kelola tertarik menangani kegiatan yang berhubungan dengan tema lingkungan dan
recycle. Hanya saja, bahasa Inggris mereka sulit kami tangkap. Sekarang
bayangkan kalau para kenshusei itu bisa kita bentuk menjadi usahawan-usahawan
baru. Saya kira mereka akan berhasil kalau mendapatkan bimbingan yang tepat.
Kenshuseipreneur
Rekan saya, Sunaryo Suhadi, seorang wirausaha senior, pemilik usaha di bidang
energi dengan aset sebesar Rp12 triliun di Jawa Timur, sudah
gatal ingin segera menangani anak-anak muda ini. Dia menawarkan
"virus" kewirausahaan, yang kalau terjangkit biasanya membuat mereka
yang mengikuti pelatihan ini tak bisa tidur.Sore harinya,anakanak muda yang
kami beri nama kenshuseipreneur ini mengaku jantungnya sudah berdegup keras dan
ingin segera memulai.
Tetapi kami selalu mengingatkan pentingnya menaklukkan diri sendiri dan memulai
usaha dari kecil. Bukan langsung menggelontorkan uang ratusan juta. Semua harus
dimulai dengan kejelian dan waktu belajar yang cukup. Sebab, setiap permulaan
itu pasti sulit dan butuh keuletan. Di RKSE, setiap alumnus dibimbing bukan
hanya oleh para mentor, melainkan juga sesama alumnus yang sekarang bisnisnya
mulai kelihatan. Ketika kewirausahaan telah menjadi topik yang hot,di luar sana
tentu ada ribuan predator yang siap "menerkam"mereka dengan janji
yang muluk-muluk.
Belum lagi janji-janji instan dan "cara cepat menjadi kaya" yang
belakangan banyak sekali Anda temui di toko-toko buku, internet, dan tawaran
sehari-hari via Facebook,
SMS,dan sebagainya. Saya selalu mengingatkan berhati-hatilah terhadap
penipupenipu yang memberi janji sangat indah seperti itu. Sebab, bila seorang
(penipu) yang berpengalaman bertemu dengan seorang yang punya uang selalu akan
terjadi pertukaran: yangpunya uangakanmendapatkan pengalaman (yaitu tertipu)
dan yang punya pengalaman akan mendapatkan uang si tertipu.
Kenshusei masih sangat muda. Menurut pembina mereka, setiap tahun ada sekitar
4.000 orang yang magang bekerja di Jepang. Jumlah ini tentu masih sedikit,
tetapi sangat berarti untuk membangun Indonesia . Di Pulau Bali, setiap
tahun ada 40.000 orang turis asal Jepang yang berlibur dan sebagian memilih
tinggal dan bekerja di sana .
Mereka butuh penerjemah dan merasa nyaman bila dikelilingi orang-orang yang
mampu berbicara dalam bahasa mereka.
Saat ini para pensiunan Jepang sedang berada dalam tekanan ekonomi biaya tinggi
sehingga jutaan di antara mereka tengah mencari tempat untuk mengisi hari tua
mereka di negeri lain yang biaya hidupnya lebih murah. Saya mendengar, Pemerintah Filipina , Vietnam ,
dan Taiwan
telah memberi mereka lokasi beserta fasilitasfasilitasn ya, lengkap dengan visa
yang berdurasi panjang untuk para manula berkantong tebal ini. Saya mendengar
pula mereka sudah lama menanyakan Indonesia . Andaikan kenshuseiini
bisa kita bentuk menjadi usahawan, dan mereka terpanggil untuk berubah, maka
jalan pun terbuka lebar.Asalkan sabar dan pemerintah mendukungnya. (*)
* RHENALD KASALI, Ketua Program MM UI
27 December 2010
KISAH SUKSES: Andi Sufariyanto: "Pensiun di Umur 33"
Terlanjur nyemplung dan sekalian basah. Itulah yang dialami Andi Sufariyanto, CEO Natural Body Care Pourvous. Sejak masih duduk di bangku kuliah tahun ke-2, Andi menjalankan bisnis awalnya dengan bermodalkan uang Rp 250.000. “Jadi (tahun) 99 saya mulai, mengalami pasang surut, dan baru lumayan pada 1995,” katanya. Sekurangnya ada tujuh janis usaha yang dilakoninya sebelum merintis usaha produk perawatan tubuh. “Pertama jual beli hp, lalu servis hp, cuci mobil, menjual barang serba lima ribu, bisnis software, aksesoris, dan desain,” papar Andi.
Pada September 2007 Andi pun memulai bisnis besarnya ini. “Awalnya dari pesanan, kita nemu orang yang memang butuh produk perawatan untuk pernikahan dia, kebetulan saya searching di database saya, saya punya orang yang bisa bikin. Jadi saya makelar di tengah-tengah,” Andi menuturkan. Setelah jalan, Andi pun mencari tahu melalui internet serta media lain bahwa pasar untuk produk kosmetik yang natural sangat besar. “Di internasional sudah billion, sangat besar,” tegasnya. Berawal dari peluang tersebut, Andi yang sudah memiliki modal dari bisnis-bisnis kecil sebelumnya mulai menggarap bisnis barunya dengan serius.
Pourvous berasal dari bahasa Prancis yang berarti “untuk kamu”. Produk Pourvous sendiri ditujukan bagi perempuan dengan usia di atas 20 tahun. Terdapat berbagai varian yang tersedia, di antaranya body lotion, body butter, foot treatment, massage oil, firming series, shower gel, aromatic pillow, dan teh untuk dikonsumsi. Selama tiga tahun berjalan, produksi untuk satu varian mencapai 2.000 per bulan.
Distribusi produk ini sudah hampir mencapai seluruh kota besar di Indonesia. Selama ini Andi menjual produknya secara online serta melalui beberapa distributor. “Untuk saat ini kita mencoba sistem outlet. Kita barusan mendirikan outlet di Surabaya, di Tunjungan Plaza,” ujar kelahiran 8 Juli 1981 ini. Beberapa varian Pourvous juga sudah pernah diekspor ke Manila sebanyak dua kali. Menurut Andi, saat ini pihaknya sedang mempelajari ritme bisnis ritel kosmetik yang telah berdiri di Surabaya. “Setelah ritme dapat, kita akan buka (outlet) di Jakarta,” imbuhnya seraya menambahkan bahwa mereka telah mendapat tawaran dari Pasaraya Grande dan Alun-Alun Grand indonesia. “Tawarannya di-postpone dulu,” kata Andi lagi.
Dengan status sebagai Usaha Kecil Menengah (UKM), Andi mengakui beberapa kendala yang selama ini dihadapinya. Ia mengatakan, kesulitan utama adalah proses perizinan. Tidak hanya biaya, namun dibutuhkan pula waktu untuk memprosesnya. “Misalnya dapat sertifikat halal, GMP, SNI,” tukasnya. Ia menambahkan, proses perizinan tersebut berkaitan dengan jumlah barang yang akan diproduksi. “Untuk produksi kita bicara untuk produksi per termin, tidak bisa sedikit-sedikit” tandasnya.
Selain Pourvous, di bawah PT Adila Imperium buatan Andi, terdapat pula virtual office. Virtual office berfungsi membantu sebuah kantor dalam menjalankan bisnisnya, sehingga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan. “Virtual office kita segmennya lebih ke ukm, targetnya supaya ukm bisa terakselerasi dengan tidak terbebani biaya operasional bulanan. Karena itu tidak seperti virtual office lainnya yang berada di building, kita ini berada di ruko,” papar Andi.
Setelah melalui perjuangan panjang hingga mencapai tahap sekarang ini, Andi merasa bersyukur dirinya tidak memiliki keinginan untuk bekerja kantoran. Dikemukakannya, ia telah berjani pada dirinya sendiri dan juga ingin membuktikan kepada temannya bahwa ia dapat pensiun dari pekerjaan di umur 33. “Saya terlanjur koar-koar kepada teman-teman bahwa saya tidak mau bekerja kantoran. Dan saya ingin buktikan kepada teman saya, di umur 33 sudah bisa pensiun. Pensiun dalam artian, kerja itu merupakan apa yang ingin dilakukan, bukan yang harus dilakukan,” ucap lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Surabaya ini.
Dukungan orang tua sebenarnya kurang dirasakan oleh Andi. “Kedua orang tua saya tidak berbisnis, mereka bekerja dua-duanya. Jadi didukung tidak, dikekang juga tidak,” imbuhnya. Namun, yang dilakukan Andi untuk mengubah kedua orang tuanya dari yang semula abstain menjadi dukungan adalah dengan melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan seorang anak saat berkuliah yakni berprestasi baik. “Saat kuliah saya pintar bagi-bai waktu, supaya dapat nilai bagus. Kalau nilai sudah bagus orang tua pun tidak akan melarang kita melakukan kegiatan lain seperti misalnya bisnis,” ungkapnya.
Andi pun membagi rahasia suksesnya dalam berkarier menjadi wirausahawan muda. Untuk menjadi sukses diperlukan skill, knowledge dan network. “Skill adalah apa yang kita lalui, knowledge adalah apa yang kita pelajari, dan network adalah siapa yang kita kenal. Modal itu nomor sekian,” katanya. Ke depannya, ia berharap produk kosmetik Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri sekaligus dapat berbicara di pasar global.
Sumber: swa.co.id
Gambar: andisufariyanto.blogspot.com
Pada September 2007 Andi pun memulai bisnis besarnya ini. “Awalnya dari pesanan, kita nemu orang yang memang butuh produk perawatan untuk pernikahan dia, kebetulan saya searching di database saya, saya punya orang yang bisa bikin. Jadi saya makelar di tengah-tengah,” Andi menuturkan. Setelah jalan, Andi pun mencari tahu melalui internet serta media lain bahwa pasar untuk produk kosmetik yang natural sangat besar. “Di internasional sudah billion, sangat besar,” tegasnya. Berawal dari peluang tersebut, Andi yang sudah memiliki modal dari bisnis-bisnis kecil sebelumnya mulai menggarap bisnis barunya dengan serius.
Pourvous berasal dari bahasa Prancis yang berarti “untuk kamu”. Produk Pourvous sendiri ditujukan bagi perempuan dengan usia di atas 20 tahun. Terdapat berbagai varian yang tersedia, di antaranya body lotion, body butter, foot treatment, massage oil, firming series, shower gel, aromatic pillow, dan teh untuk dikonsumsi. Selama tiga tahun berjalan, produksi untuk satu varian mencapai 2.000 per bulan.
Distribusi produk ini sudah hampir mencapai seluruh kota besar di Indonesia. Selama ini Andi menjual produknya secara online serta melalui beberapa distributor. “Untuk saat ini kita mencoba sistem outlet. Kita barusan mendirikan outlet di Surabaya, di Tunjungan Plaza,” ujar kelahiran 8 Juli 1981 ini. Beberapa varian Pourvous juga sudah pernah diekspor ke Manila sebanyak dua kali. Menurut Andi, saat ini pihaknya sedang mempelajari ritme bisnis ritel kosmetik yang telah berdiri di Surabaya. “Setelah ritme dapat, kita akan buka (outlet) di Jakarta,” imbuhnya seraya menambahkan bahwa mereka telah mendapat tawaran dari Pasaraya Grande dan Alun-Alun Grand indonesia. “Tawarannya di-postpone dulu,” kata Andi lagi.
Dengan status sebagai Usaha Kecil Menengah (UKM), Andi mengakui beberapa kendala yang selama ini dihadapinya. Ia mengatakan, kesulitan utama adalah proses perizinan. Tidak hanya biaya, namun dibutuhkan pula waktu untuk memprosesnya. “Misalnya dapat sertifikat halal, GMP, SNI,” tukasnya. Ia menambahkan, proses perizinan tersebut berkaitan dengan jumlah barang yang akan diproduksi. “Untuk produksi kita bicara untuk produksi per termin, tidak bisa sedikit-sedikit” tandasnya.
Selain Pourvous, di bawah PT Adila Imperium buatan Andi, terdapat pula virtual office. Virtual office berfungsi membantu sebuah kantor dalam menjalankan bisnisnya, sehingga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan. “Virtual office kita segmennya lebih ke ukm, targetnya supaya ukm bisa terakselerasi dengan tidak terbebani biaya operasional bulanan. Karena itu tidak seperti virtual office lainnya yang berada di building, kita ini berada di ruko,” papar Andi.
Setelah melalui perjuangan panjang hingga mencapai tahap sekarang ini, Andi merasa bersyukur dirinya tidak memiliki keinginan untuk bekerja kantoran. Dikemukakannya, ia telah berjani pada dirinya sendiri dan juga ingin membuktikan kepada temannya bahwa ia dapat pensiun dari pekerjaan di umur 33. “Saya terlanjur koar-koar kepada teman-teman bahwa saya tidak mau bekerja kantoran. Dan saya ingin buktikan kepada teman saya, di umur 33 sudah bisa pensiun. Pensiun dalam artian, kerja itu merupakan apa yang ingin dilakukan, bukan yang harus dilakukan,” ucap lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Surabaya ini.
Dukungan orang tua sebenarnya kurang dirasakan oleh Andi. “Kedua orang tua saya tidak berbisnis, mereka bekerja dua-duanya. Jadi didukung tidak, dikekang juga tidak,” imbuhnya. Namun, yang dilakukan Andi untuk mengubah kedua orang tuanya dari yang semula abstain menjadi dukungan adalah dengan melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan seorang anak saat berkuliah yakni berprestasi baik. “Saat kuliah saya pintar bagi-bai waktu, supaya dapat nilai bagus. Kalau nilai sudah bagus orang tua pun tidak akan melarang kita melakukan kegiatan lain seperti misalnya bisnis,” ungkapnya.
Andi pun membagi rahasia suksesnya dalam berkarier menjadi wirausahawan muda. Untuk menjadi sukses diperlukan skill, knowledge dan network. “Skill adalah apa yang kita lalui, knowledge adalah apa yang kita pelajari, dan network adalah siapa yang kita kenal. Modal itu nomor sekian,” katanya. Ke depannya, ia berharap produk kosmetik Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri sekaligus dapat berbicara di pasar global.
Sumber: swa.co.id
Gambar: andisufariyanto.blogspot.com
09 December 2010
Kisah Sukses: Iim Fahima ; Berjaya di dunia Online
Kehadirannya membius lawan bicara. Semangatnya menular sehingga siapapun di dekatnya ikut optimis. Sosok wanita muda cantik, elegan, percaya diri, dan berwawasan luas, seolah tak cukup menggambarkan pribadi Iim Fahima Jachja (31). Dialah konsultan online advertising yang melejit namanya diantara pegiat jasa virtal tanah air. Maka, sangat layak jika finalis International Young Creative Entrepreneur of The Year (IYCE) 2008, British Council ini menjadi salah satu pembicara paling ditunggu di Seminar Kartini femina. Sejumlah wirausaha sukses lain juga akan membeberkan rahasia bisnis mereka, dua diantaranya, pemilik distro Bloop dan tas Mimsy.
Siap Tak Gajian Setahun
Pada tahun 2006, karier Iim di salah satu perusahaan periklanan terbesar di Indonesia, terbilang mapan. Karier suaminya, Adhitia Sofyan, saat itu pun cukup bagus, yakni sebagai art director disebuah agen periklanan asing. Tapi ditengah kemapanan yang bisa membuai itu, mereka justru mantap membuka lembaran baru dengan menjadi wirausaha. This is the time. Begitu tekad mereka kala itu. Padahal, untuk mewujudkan usaha impian tersebut, mereka harus memulai dari nol.
Mereka mengambil keputusan yang berani. Apalagi jika mengingat pada waktu itu, kondisi perekonomian Indonseia sedang tak menentu dan penuh ujian. Toh, Iim tak hanya berbekal nekat dalam membentuk bisnis jasa konsultasi maketing dan komunikasi onlie, yang ia beri nama Virus Communications, dibawah bendera PT Virtual Media Nusantara.
Sebelumnya, ia menyiapkan sederet rencana matang. "Semua resiko usaha saya perhitungkan, termasuk dari sisi finance. Demi bisnis baru ini, saya bahkan sudah siap-siap andai tidak bisa gajian setahun," kenangnya, sambil tersenyum. "Tapi, Ahamdulillah, baru sebulan bisnis berjalan, saya sudah mendapat klien penting," sambungnya.
Ternyata, berwirausaha bukan 'mainan' baru bagi Iim. Meski ilmu marketing bukan latar belakang pendidikannya, bagi lulusan Program Studi Manajemen Penyiaran (Broadcasting), Akademi Media Radio dan Televisi, Jakarta, ini berwirausaha merupakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya. "Eyang saya seorang pedagang. Beliau eksportir gula dan kayu. Kakak saya pun banyak yang jadi entrepreneur," ujar bungsu dari 9 bersaudara ini.
"Saat masih bekerja menjadi staf di perusahaan periklanan, saya sadar betul, suatu saat nanti saya akan menjadi seorang wanita wirausaha." tuturnya. Lantas, Virus Communications berkolaborasi sebagai sister company dengan Virtual Consulting (perusahaan konsultan Online marketing yang digawangi Nukman Luthfie, pakar online marketing). Virus unggul dalam hal digital advertising, sedangkan Virtual unggul dalam hal online business development (melahirkan portal-portal besar, seperti bisnis.com, swa.co.id, tangandiatas.com). Baru-baru ini, Virus melakukan merger dengan Virtual untuk memperkokoh diri sebagai perusahaan konsultan online marketing papan atas di Indonesia.
Pengalaman bekerja di bidang advertising yang mengandalkan media televisi, radio atau print ad (metode konvensional, begitu ia menamakannya) diakui Iim memberi banyak pelajaran berharga. Meski kini ia fokus pada dunia pemasaran bisnis secara online, ilmu komunikasi marketing yang ia dapat dari pekerjaannya dulu itu tetap menjadi landasan dalam mengaplikasikan usaha barunya. "Kesibukan pekerjaan saya yang sekarang tak jauh berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Namun, karena terbiasa bekerja di perusahaan besar, dengan struktur dan sistem kerja yang sudah rapi, saya harus mencurahkan perhatian ekstra dalam membangun bisnis sendiri," katanya.
Ia harus banyak belajar lagi. "Misalnya, dalam hal membuat laporan produksi, catatan keuangan, berhubungan dengan rekanan bisnis, membangun sistem layanan pelanggan (client service), hingga menyusun sistem keuangan," jelasnya. Meski cukup rumit, toh, Iim menjalani semua itu dengan antusiasme tinggi. "Tak hanya dalam hal berbisnis, di setiap aspek kehidupan pun saya berusaha selalu memberikan yang terbaik," kata wanita kelahiran 7 Febuari 1978 ini, bijak.
Tantangan Bisnis Online
Yang membedakan cara bisnis Iim dengan advertising konvensional adalah hal perantara (medium) komunikasi. "Tantangan pemasaran via online seperti yang saya jalani, lebih besar. Bandingkan saja dengan sebuah iklan televisi, yang besarnya memenuhi satu layar. Di satu layar situs internet bisa terdapat banyak sekali iklan online. Nah disinilah seninya iklan online. Setiap konsultan iklan online butuh strategi khusus agar iklannya dilirik konsumen, dan menang bersaing dengan jejeran iklan lain, jika tidak paham betul ilmunya, iklan yang dibuat bisa jadi malah tidak efektif menjaring konsumen," ungkap Iim, panjang lebar.
Seorang konsultan iklan online yang baik, selain harus mengerti ilmu komunikasi marketing secara umum, juga harus memahami sejumlah hal lain. Mulai dari konsep komunikasi online marketing, perilaku konsumen online, sampai ilmu teknologi informasi, plus kreativitas yang tinggi.
Menurut Iim, era pemasaran sekarang sudah bergeser. Dulu, produsen ingin produknya selalu tampil sempurna di mata konsumennya. "Padahal, bukankah tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna?" kata Iim. Untunglah, konsumen sekarang sudah dapat melihat kekurangan suatu produk, bahkan bisa menyampaikan kritik.
"Produsen pun akhirnya sadar, lebih baik memperlakukan konsumen sebagai teman, dan menempatkan diri mereka sejajar dengan konsumen. Sekarang ini sudah tidak zaman-nya lagi memberlakukan model komunikasi atau pemasaran yang ’berjarak’ dengan konsumen. Jika tetap menerapkannya, bukan tak mungkin, produk justru makin ditinggalkan," Papar Iim.
Ia lantas mencontohkan apa yang telah dilakukan sebuah perusahaan minuman ringan dalam website-nya. Karena tak mau dikritik, mereka sengaja menghapus emua komentar konsumen yang bersifat kritik. "Akibatnya, konsumen malah menyebarkan sikap buruk perusahaan itu kepada khalayak luas sehingga berdampak kurang baik pada citra produk tersebut," jelasnya.
Percaya atau tidak, alasan utama yang menarik Iim untuk terjun berbisnis di dunia online dulu adalah krisis ekonomi. Di tengah krisis ekonomi sejak 2005, ia belum banyak melihat pebisnis dengan minat yang serupa dengannya. Dengan sedikitnya kompetitor, Iim percaya diri menangkap peluang bisnis yang bermasa depan sangat menjanjikan ini. Apalagi, teknologi informasi, khususnya layanan internet, makin digandrungi masyarakat.
"Dari waktu ke waktu, pengguna internet di Indonesia makin besar. Berdasarkan riset yang dibuat search engine ternama Google, saat ini di Indonesia ada sekitar 30 juta pengguna jaringan internet. Angka ini merupakan angka tertinggi di Asia Tenggara," kata Iim, senang. Fakta ini pula yang membuat para produsen atau pengusaha mengakui internet sebagai media pemasaran dan iklan yang efektif. Meski demikian Iim tidak anti pada iklan konvensional. Cara ini tetap dilakukannya, namun hanya sesuai kebutuhan.
Mengikuti dinamika dunia virtual membutuhkan kemampuan adaptasi yang tinggi."Ada yang bilang, gaya hidup konsultan online marketing juga harus online (dinamis dan mampu belajar cepat.). Makanya, saya membiasakan diri meluangkan waktu sejam dalam sehari untuk meng-up date pengetahuan saya di bidang ini," ujar ibu satu anak ini.
Tak sulit menelusuri jejak keberhasilan Iim. Sederet nama perusahaan besar menjadi kliennya. Sebut saja di antaranya Hewlett Packard, PT Telkom, Toyota, Auto2000, XL, Smart.
Cinta Keluarga
Meski selalu aktif dan produktif, Iim enggan disebut sebagai workaholic. "Akan lebih cocok, kalau saya disebut seorang shopaholic," ujar wanita yang memang hobi berbelanja pakaian dan sepatu ini, sambil tertawa. Menurutnya, workaholic bukanlah hal positif, sekalipun bagi wanita bekerja seperti dirinya. Tampaknya, ia tak mau kehilangan indahnya kehidupan di luar pekerjaan.
Nyatanya, meski kesibukannya menggunung, Iim tak pernah kekurangan waktu untuk menikmati saat-saat pribadi. Agak aneh memang, mengingat jam kerjanya saja bisa lebih dari 18 jam sehari. Bahkan, ia harus merelakan sejumlah akhir pekan untuk bekerja. "Lagi pula, ditengah sengitnya persaingan usaha sekarang ini, mana ada entrepreneur yang bisa bebas berlibur?" ujarnya.
Keseharian Iim, bisa membuat kita iri. Soalnya, meski sibuk bekerja, ia tak terpisahkan dari buah hatinya, Maleeka Kendra Adhitia (16 bulan). Setiap hari Ken Ken, begitu panggilan sayang putrinya itu, ikut kemanapun Iim pergi. "Sampai sekarang saya masih memberikan ASI untuk Ken Ken. Itu sebabnya, saya membawanya kemana-mana," ungkapnya, bahagia.
"Me time saya berarti bersantai dengan suami dan anak," katanya. Hobi masak sang suami pun jadi bumbu yang indah dalam rumah tangganya. "Saya tidak bisa masak, justru Mo Mo (panggilan untuk Adhitia, suaminya) yang sering masak untuk saya," tutur pencinta hidangan steik dan pasta ini. Kata 'Alhamdulillah' berkali-kali ia ucapkan sebagai ungkapan syukur atas semua yang dimilikinya saat ini.
Mengenai busana muslim yang dikenakannya, sehari-hari, juga suatu anugerah yang disyukurinya. Sejak kembali dari Tanah Suci pada tahun 2006, ia mengubah penampilannya 180 derajat. "Dulu saya senang memakai pakaian terbuka. Namun, sejak menikah dan naik haji, saya berusaha membenahi diri. Apalagi, kata Mo Mo, saya terlihat paling cantik dengan pakaian seperti ini," sambung wanita yang punya panggilan sayang Mi Mi ini, seraya tertawa.
"Mudah-mudahan, 5 tahun lagi saya bisa menujadi konsultan online ternama," harapnya. Meski luar biasa sibuk, Iim tampaknya tak kenal kata lelah. "Saya amat menikmati apa yang saya lakukan sekarang," katanya. Kegagalan pun tak membuatnya kecewa. "Suka maupun duka selalu saya anggap bagian dari proses yang harus saya lalui.". Karena alasan ini juga, Iim tak tahu harus menjawab apa ketika ditanya kapan ia berencana 'pensiun' dari pekerjaannya.
Sumber: majalah FEMINA no 15/XXXVII 11-17 April 2009
Siap Tak Gajian Setahun
Pada tahun 2006, karier Iim di salah satu perusahaan periklanan terbesar di Indonesia, terbilang mapan. Karier suaminya, Adhitia Sofyan, saat itu pun cukup bagus, yakni sebagai art director disebuah agen periklanan asing. Tapi ditengah kemapanan yang bisa membuai itu, mereka justru mantap membuka lembaran baru dengan menjadi wirausaha. This is the time. Begitu tekad mereka kala itu. Padahal, untuk mewujudkan usaha impian tersebut, mereka harus memulai dari nol.
Mereka mengambil keputusan yang berani. Apalagi jika mengingat pada waktu itu, kondisi perekonomian Indonseia sedang tak menentu dan penuh ujian. Toh, Iim tak hanya berbekal nekat dalam membentuk bisnis jasa konsultasi maketing dan komunikasi onlie, yang ia beri nama Virus Communications, dibawah bendera PT Virtual Media Nusantara.
Sebelumnya, ia menyiapkan sederet rencana matang. "Semua resiko usaha saya perhitungkan, termasuk dari sisi finance. Demi bisnis baru ini, saya bahkan sudah siap-siap andai tidak bisa gajian setahun," kenangnya, sambil tersenyum. "Tapi, Ahamdulillah, baru sebulan bisnis berjalan, saya sudah mendapat klien penting," sambungnya.
Ternyata, berwirausaha bukan 'mainan' baru bagi Iim. Meski ilmu marketing bukan latar belakang pendidikannya, bagi lulusan Program Studi Manajemen Penyiaran (Broadcasting), Akademi Media Radio dan Televisi, Jakarta, ini berwirausaha merupakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya. "Eyang saya seorang pedagang. Beliau eksportir gula dan kayu. Kakak saya pun banyak yang jadi entrepreneur," ujar bungsu dari 9 bersaudara ini.
"Saat masih bekerja menjadi staf di perusahaan periklanan, saya sadar betul, suatu saat nanti saya akan menjadi seorang wanita wirausaha." tuturnya. Lantas, Virus Communications berkolaborasi sebagai sister company dengan Virtual Consulting (perusahaan konsultan Online marketing yang digawangi Nukman Luthfie, pakar online marketing). Virus unggul dalam hal digital advertising, sedangkan Virtual unggul dalam hal online business development (melahirkan portal-portal besar, seperti bisnis.com, swa.co.id, tangandiatas.com). Baru-baru ini, Virus melakukan merger dengan Virtual untuk memperkokoh diri sebagai perusahaan konsultan online marketing papan atas di Indonesia.
Pengalaman bekerja di bidang advertising yang mengandalkan media televisi, radio atau print ad (metode konvensional, begitu ia menamakannya) diakui Iim memberi banyak pelajaran berharga. Meski kini ia fokus pada dunia pemasaran bisnis secara online, ilmu komunikasi marketing yang ia dapat dari pekerjaannya dulu itu tetap menjadi landasan dalam mengaplikasikan usaha barunya. "Kesibukan pekerjaan saya yang sekarang tak jauh berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Namun, karena terbiasa bekerja di perusahaan besar, dengan struktur dan sistem kerja yang sudah rapi, saya harus mencurahkan perhatian ekstra dalam membangun bisnis sendiri," katanya.
Ia harus banyak belajar lagi. "Misalnya, dalam hal membuat laporan produksi, catatan keuangan, berhubungan dengan rekanan bisnis, membangun sistem layanan pelanggan (client service), hingga menyusun sistem keuangan," jelasnya. Meski cukup rumit, toh, Iim menjalani semua itu dengan antusiasme tinggi. "Tak hanya dalam hal berbisnis, di setiap aspek kehidupan pun saya berusaha selalu memberikan yang terbaik," kata wanita kelahiran 7 Febuari 1978 ini, bijak.
Tantangan Bisnis Online
Yang membedakan cara bisnis Iim dengan advertising konvensional adalah hal perantara (medium) komunikasi. "Tantangan pemasaran via online seperti yang saya jalani, lebih besar. Bandingkan saja dengan sebuah iklan televisi, yang besarnya memenuhi satu layar. Di satu layar situs internet bisa terdapat banyak sekali iklan online. Nah disinilah seninya iklan online. Setiap konsultan iklan online butuh strategi khusus agar iklannya dilirik konsumen, dan menang bersaing dengan jejeran iklan lain, jika tidak paham betul ilmunya, iklan yang dibuat bisa jadi malah tidak efektif menjaring konsumen," ungkap Iim, panjang lebar.
Seorang konsultan iklan online yang baik, selain harus mengerti ilmu komunikasi marketing secara umum, juga harus memahami sejumlah hal lain. Mulai dari konsep komunikasi online marketing, perilaku konsumen online, sampai ilmu teknologi informasi, plus kreativitas yang tinggi.
Menurut Iim, era pemasaran sekarang sudah bergeser. Dulu, produsen ingin produknya selalu tampil sempurna di mata konsumennya. "Padahal, bukankah tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna?" kata Iim. Untunglah, konsumen sekarang sudah dapat melihat kekurangan suatu produk, bahkan bisa menyampaikan kritik.
"Produsen pun akhirnya sadar, lebih baik memperlakukan konsumen sebagai teman, dan menempatkan diri mereka sejajar dengan konsumen. Sekarang ini sudah tidak zaman-nya lagi memberlakukan model komunikasi atau pemasaran yang ’berjarak’ dengan konsumen. Jika tetap menerapkannya, bukan tak mungkin, produk justru makin ditinggalkan," Papar Iim.
Ia lantas mencontohkan apa yang telah dilakukan sebuah perusahaan minuman ringan dalam website-nya. Karena tak mau dikritik, mereka sengaja menghapus emua komentar konsumen yang bersifat kritik. "Akibatnya, konsumen malah menyebarkan sikap buruk perusahaan itu kepada khalayak luas sehingga berdampak kurang baik pada citra produk tersebut," jelasnya.
Percaya atau tidak, alasan utama yang menarik Iim untuk terjun berbisnis di dunia online dulu adalah krisis ekonomi. Di tengah krisis ekonomi sejak 2005, ia belum banyak melihat pebisnis dengan minat yang serupa dengannya. Dengan sedikitnya kompetitor, Iim percaya diri menangkap peluang bisnis yang bermasa depan sangat menjanjikan ini. Apalagi, teknologi informasi, khususnya layanan internet, makin digandrungi masyarakat.
"Dari waktu ke waktu, pengguna internet di Indonesia makin besar. Berdasarkan riset yang dibuat search engine ternama Google, saat ini di Indonesia ada sekitar 30 juta pengguna jaringan internet. Angka ini merupakan angka tertinggi di Asia Tenggara," kata Iim, senang. Fakta ini pula yang membuat para produsen atau pengusaha mengakui internet sebagai media pemasaran dan iklan yang efektif. Meski demikian Iim tidak anti pada iklan konvensional. Cara ini tetap dilakukannya, namun hanya sesuai kebutuhan.
Mengikuti dinamika dunia virtual membutuhkan kemampuan adaptasi yang tinggi."Ada yang bilang, gaya hidup konsultan online marketing juga harus online (dinamis dan mampu belajar cepat.). Makanya, saya membiasakan diri meluangkan waktu sejam dalam sehari untuk meng-up date pengetahuan saya di bidang ini," ujar ibu satu anak ini.
Tak sulit menelusuri jejak keberhasilan Iim. Sederet nama perusahaan besar menjadi kliennya. Sebut saja di antaranya Hewlett Packard, PT Telkom, Toyota, Auto2000, XL, Smart.
Cinta Keluarga
Meski selalu aktif dan produktif, Iim enggan disebut sebagai workaholic. "Akan lebih cocok, kalau saya disebut seorang shopaholic," ujar wanita yang memang hobi berbelanja pakaian dan sepatu ini, sambil tertawa. Menurutnya, workaholic bukanlah hal positif, sekalipun bagi wanita bekerja seperti dirinya. Tampaknya, ia tak mau kehilangan indahnya kehidupan di luar pekerjaan.
Nyatanya, meski kesibukannya menggunung, Iim tak pernah kekurangan waktu untuk menikmati saat-saat pribadi. Agak aneh memang, mengingat jam kerjanya saja bisa lebih dari 18 jam sehari. Bahkan, ia harus merelakan sejumlah akhir pekan untuk bekerja. "Lagi pula, ditengah sengitnya persaingan usaha sekarang ini, mana ada entrepreneur yang bisa bebas berlibur?" ujarnya.
Keseharian Iim, bisa membuat kita iri. Soalnya, meski sibuk bekerja, ia tak terpisahkan dari buah hatinya, Maleeka Kendra Adhitia (16 bulan). Setiap hari Ken Ken, begitu panggilan sayang putrinya itu, ikut kemanapun Iim pergi. "Sampai sekarang saya masih memberikan ASI untuk Ken Ken. Itu sebabnya, saya membawanya kemana-mana," ungkapnya, bahagia.
"Me time saya berarti bersantai dengan suami dan anak," katanya. Hobi masak sang suami pun jadi bumbu yang indah dalam rumah tangganya. "Saya tidak bisa masak, justru Mo Mo (panggilan untuk Adhitia, suaminya) yang sering masak untuk saya," tutur pencinta hidangan steik dan pasta ini. Kata 'Alhamdulillah' berkali-kali ia ucapkan sebagai ungkapan syukur atas semua yang dimilikinya saat ini.
Mengenai busana muslim yang dikenakannya, sehari-hari, juga suatu anugerah yang disyukurinya. Sejak kembali dari Tanah Suci pada tahun 2006, ia mengubah penampilannya 180 derajat. "Dulu saya senang memakai pakaian terbuka. Namun, sejak menikah dan naik haji, saya berusaha membenahi diri. Apalagi, kata Mo Mo, saya terlihat paling cantik dengan pakaian seperti ini," sambung wanita yang punya panggilan sayang Mi Mi ini, seraya tertawa.
"Mudah-mudahan, 5 tahun lagi saya bisa menujadi konsultan online ternama," harapnya. Meski luar biasa sibuk, Iim tampaknya tak kenal kata lelah. "Saya amat menikmati apa yang saya lakukan sekarang," katanya. Kegagalan pun tak membuatnya kecewa. "Suka maupun duka selalu saya anggap bagian dari proses yang harus saya lalui.". Karena alasan ini juga, Iim tak tahu harus menjawab apa ketika ditanya kapan ia berencana 'pensiun' dari pekerjaannya.
Sumber: majalah FEMINA no 15/XXXVII 11-17 April 2009
18 November 2010
KISAH SUKSES: Diah Andini, Bisnis Kue Kering & Penggerak Pengangguran
by Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia
Dalam menjalankan bisnis kue kering, Diah Andini menerapkan sistem produksi ramah lingkungan. Ia membuat sumur resapan untuk menampung limbah. Diah juga memberi lapangan kerja bagi banyak pengangguran di lingkungannya.
Diah Andini adalah sosok wanita yang patut dicontoh. Betapa tidak. Untuk membantu usahanya dalam berniaga kue kering, wanita yang akrab disapa Andini ini memberdayakan para pengangguran yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya di Desa Bojong Koneng, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Eloknya, dalam menjalankan usahanya yang telah dirintis sejak tujuh tahun silam itu, Andini menerapkan sistem produksi ramah lingkungan. Contohnya, ia membuat sumur resapan di pabriknya untuk menampung limbah hasil produksi kue keringnya. Jadi, selain memberi manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar, usaha yang ditekuni Andini juga ramah lingkungan lantaran tidak meninggalkan bau tak sedap.
Manajemen produksi seperti itulah yang akhirnya mengantarkan Andini meraih penghargaan sebagai Social Entrepreneur di ajang BNI-Femina tahun 2009 lalu.
Andini mengaku, dirinya tidak menyangka bisnis kue keringnya bakal berkembang seperti saat ini. Maklum, saat awal membuka usaha kue, Andini tidak yakin dengan kondisi fisiknya ketika itu. Gara-garanya, dokter memvonis perempuan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini menderita penyakit jantung menjelang akhir studinya. “Saya sempat stres. Ibu saya lalu menyarankan agar saya berbisnis supaya bisa menenangkan pikiran,” kenang Andini.
Karena sejak kecil sering membantu sang ibu membuat kue kering, Andini memutuskan memulai bisnis kue kering.
Bermodalkan pinjaman dari ibunya, dia mulai merintis usaha kue kering. Bendera usahanya adalah Difa Cookies.
Pada tahap awal, ia mempekerjakan delapan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Perempuan kelahiran 2 Juni 1975 ini mengisahkan, awalnya cukup berat mempekerjakan mereka. Yang tersulit adalah mengubah kebiasaan hidup karyawannya, baik dari sisi kebersihan maupun kedisiplinan dalam bekerja.
Itu sebabnya, sebelum resmi mempekerjakan mereka, Andini melakukan pelatihan awal selama sepekan. Salah satu hal yang ia tekankan adalah membuat standar operasional untuk melatih kedisiplinan para karyawan. “Awalnya untuk menerapkan kebersihan dan kedisiplinan pada diri sendiri saja berat, tapi sekarang bahkan ada yang menerapkannya sampai ke lingkungan rumah mereka,” tutur ibu dua anak ini.
Jadi, pelatihan kerja yang ia terapkan pada karyawannya tidak sia-sia. Kini, Andini telah merekrut 25 warga sekitar Bojong Koneng menjadi pekerja tetap Difa Cookies. Bahkan, saat pesanan melonjak menjelang Lebaran atau hari raya lainnya, dia mempekerjakan 80-120 orang tetangganya.
Dengan mempekerjakan warga, Andini pun bisa mengangkat perekonomian warga di desanya yang termasuk salah satu desa tertinggal di Jawa Barat. “Dengan bekerja di sini, mereka bisa menambah pendapatan bagi keluarganya. Selain itu, tindak kejahatan juga bisa diminimalkan,” ujar Andini.
Andini menuturkan, tahun lalu Difa Cookies berhasil meraup omzet Rp 900 juta. Setiap tahun penjualan kue keringnya meningkat sekitar 15%-20%. Konsumennya berasal dari Bandung, Jakarta, Balikpapan, Kuala Lumpur, hingga Brunei Darussalam.
Ke depan, perempuan kelahiran Semarang ini akan merintis sistem plasma di kampung tempat pabrik mininya beroperasi. Nantinya, beberapa warga akan dikelompokkan untuk memproduksi kue kering sendiri. Andini akan membantu memasarkan hasil produksi mereka. “Saya ingin mereka tidak tergantung terus pada pabrik saya yang kecil ini,” katanya merendah.
Sumber: kontan.co.id
Dalam menjalankan bisnis kue kering, Diah Andini menerapkan sistem produksi ramah lingkungan. Ia membuat sumur resapan untuk menampung limbah. Diah juga memberi lapangan kerja bagi banyak pengangguran di lingkungannya.
Diah Andini adalah sosok wanita yang patut dicontoh. Betapa tidak. Untuk membantu usahanya dalam berniaga kue kering, wanita yang akrab disapa Andini ini memberdayakan para pengangguran yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya di Desa Bojong Koneng, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Eloknya, dalam menjalankan usahanya yang telah dirintis sejak tujuh tahun silam itu, Andini menerapkan sistem produksi ramah lingkungan. Contohnya, ia membuat sumur resapan di pabriknya untuk menampung limbah hasil produksi kue keringnya. Jadi, selain memberi manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar, usaha yang ditekuni Andini juga ramah lingkungan lantaran tidak meninggalkan bau tak sedap.
Manajemen produksi seperti itulah yang akhirnya mengantarkan Andini meraih penghargaan sebagai Social Entrepreneur di ajang BNI-Femina tahun 2009 lalu.
Andini mengaku, dirinya tidak menyangka bisnis kue keringnya bakal berkembang seperti saat ini. Maklum, saat awal membuka usaha kue, Andini tidak yakin dengan kondisi fisiknya ketika itu. Gara-garanya, dokter memvonis perempuan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini menderita penyakit jantung menjelang akhir studinya. “Saya sempat stres. Ibu saya lalu menyarankan agar saya berbisnis supaya bisa menenangkan pikiran,” kenang Andini.
Karena sejak kecil sering membantu sang ibu membuat kue kering, Andini memutuskan memulai bisnis kue kering.
Bermodalkan pinjaman dari ibunya, dia mulai merintis usaha kue kering. Bendera usahanya adalah Difa Cookies.
Pada tahap awal, ia mempekerjakan delapan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Perempuan kelahiran 2 Juni 1975 ini mengisahkan, awalnya cukup berat mempekerjakan mereka. Yang tersulit adalah mengubah kebiasaan hidup karyawannya, baik dari sisi kebersihan maupun kedisiplinan dalam bekerja.
Itu sebabnya, sebelum resmi mempekerjakan mereka, Andini melakukan pelatihan awal selama sepekan. Salah satu hal yang ia tekankan adalah membuat standar operasional untuk melatih kedisiplinan para karyawan. “Awalnya untuk menerapkan kebersihan dan kedisiplinan pada diri sendiri saja berat, tapi sekarang bahkan ada yang menerapkannya sampai ke lingkungan rumah mereka,” tutur ibu dua anak ini.
Jadi, pelatihan kerja yang ia terapkan pada karyawannya tidak sia-sia. Kini, Andini telah merekrut 25 warga sekitar Bojong Koneng menjadi pekerja tetap Difa Cookies. Bahkan, saat pesanan melonjak menjelang Lebaran atau hari raya lainnya, dia mempekerjakan 80-120 orang tetangganya.
Dengan mempekerjakan warga, Andini pun bisa mengangkat perekonomian warga di desanya yang termasuk salah satu desa tertinggal di Jawa Barat. “Dengan bekerja di sini, mereka bisa menambah pendapatan bagi keluarganya. Selain itu, tindak kejahatan juga bisa diminimalkan,” ujar Andini.
Andini menuturkan, tahun lalu Difa Cookies berhasil meraup omzet Rp 900 juta. Setiap tahun penjualan kue keringnya meningkat sekitar 15%-20%. Konsumennya berasal dari Bandung, Jakarta, Balikpapan, Kuala Lumpur, hingga Brunei Darussalam.
Ke depan, perempuan kelahiran Semarang ini akan merintis sistem plasma di kampung tempat pabrik mininya beroperasi. Nantinya, beberapa warga akan dikelompokkan untuk memproduksi kue kering sendiri. Andini akan membantu memasarkan hasil produksi mereka. “Saya ingin mereka tidak tergantung terus pada pabrik saya yang kecil ini,” katanya merendah.
Sumber: kontan.co.id
12 November 2010
KISAH SUKSES: William Soerjadjaja, Andalkan Resep Saling Memberi
Tanggal 15 Januari merupakan tanggal bersejarah untuk pasangan William Soeryadjaya dan Lily Anwar. Pasangan taipan yang menikah di Bandung tahun 1947 itu merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-60. Kepada Pembaruan, mereka membagi nostalgia cinta di masa silam.
William adalah anak kedua dari enam bersaudara. Namun dalam keluarga, dia anak laki-laki tertua. Ketika masih kecil, dia sudah menjadi yatim piatu. Itulah sebabnya Wiliam alias Tjia Kian Liong tumbuh menjadi pria dewasa dan mandiri.
Saat masih sekolah di HCZS, sekolah dasar pada masa penjajahan Belanda, di Kadipaten, William kecil sempat tak naik kelas. Berkat ketekunan, dia dapat melanjutkan pendidikan ke MULO, sekolah tingkat lanjutan pertama, di Cirebon. Namun lagi-lagi, William tinggal kelas. Dari seluruh pelajaran, dia lebih menyukai ekonomi dan tata buku. Kelak, dua pelajaran itulah menunjukkan bakatnya membangun usaha.
Bulan Oktober 1934, ayahnya dipanggil menghadap Yang Kuasa. Awan duka belum hilang ketika ibu tercinta menyusul kepergian almarhum ayahnya pada Desember 1934. Sebagai anak laki-laki tertua, William melanjutkan usaha mendiang ayah berjualan hasil bumi. Bakat berdagang sang ayah rupanya menurun kuat pada William.
Beberapa tahun kemudian, William pindah ke Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang itulah, pria kelahiran Majalengka, 20 Desember 1922 ini, menemukan jodohnya. Seorang gadis Tionghoa bernama Lily Anwar memikat hatinya. Kelak, gadis itulah yang menjadi pasangan hidupnya hingga kini di usia 85 tahun.
"Kami bertemu di Bandung sekitar tahun 1943. Waktu itu, Lily adalah anggota Chinese Red Cross yang diketuai Om Dollar, ayah mertua dari Rudi Hartono (pebulutangkis, Red)," ia mengenang.
Ketika bertemu Lily seolah langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Berikutnya, mereka kerap bertemu saat kegiatan Chinese Red Cross berlangsung. Setelah menjalin hubungan selama beberapa tahun, mereka memutuskan untuk serius. Pada usia 24 tahun, William menikahi Lily yang ketika itu hanya terpaut usia satu tahun. Sekalipun keamanan sedang tidak kondusif, William nekat menikahi sang kekasih.
"Begitu kami bertemu dan bertatap pandang, kami pun sama-sama jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama. Gadis itu lincah, cantik, dan menarik. Menurut cerita teman, dia banyak yang naksir," katanya.
Nikah Tanpa Tamu
Tampaknya Lily memang telah mencuri hati William. Di masa muda, Lily memang gadis supel yang pandai bergaul. Terus terang, William terpikat karena Lily cantik dan menarik. Pada 15 Januari 1947, mereka menikah secara sangat sederhana. Bahkan, William tidak melakukan proses lamaran.
"Kami ke kantor catatan sipil naik becak. Kami menikah tanpa dihadiri tamu undangan. Kami pun hanya mengenakan baju biasa saja. Benar-benar sangat sederhana. Tidak ada tukang potret yang hadir, itu sebabnya kami tidak punya potret pernikahan. Setelah selesai nikah, kami pulang ke Jalan Merdeka naik becak lagi," ia menambahkan.
Dari pernikahan itu, pasangan William dan Lily dikaruniai empat anak yakni Edward (21 Mei 1948), Edwin (17 Juli 1942), Joyce (14 Agustus 1950), dan Judith (14 Februari 1952). Kini, mereka sudah memiliki 10 cucu dan satu cicit. Dalam waktu dekat, salah seorang cucu akan melangsungkan pernikahan.
"Dia pandai mengurus dan mendidik anak-anak. Dia juga berani berkorban untuk membela anak-anak dan suka menolong orang- orang yang kekurangan. Hal seperti itu kerap mengharukan saya," puji William untuk istrinya.
Belum dua minggu menikah, William pergi ke Belanda dan terpaksa meninggalkan Lily di Bandung. Beruntung kemudian, Lily bisa menyusul. Tahun 1948, ketika Edward lahir, William dan Lily hidup dari berjualan kacang dan rokok paket kiriman dari Bandung. Meskipun tak punya uang banyak, mereka masih dapat menyewa satu kamar di salah satu hotel di Amsterdam.
Suatu ketika, mereka melakukan perjalanan ke Basell, Swiss. Dengan tiket yang dibeli dari hasil berjualan, mereka menumpang kereta api. Dalam perjalanan selama satu minggu itu, William, Lily, dan si mungil Edward, hanya makan roti, bubur, dan susu untuk berhemat. Hingga akhirnya, William memutuskan kembali ke Indonesia pada Februari 1949. Kenangan-kenangan seperti itulah yang makin melekatkan hubungan kasih William dan Lily.
Di atas kapal laut yang membawa mereka pulang, William kembali mengalami kejadian yang cukup menakutkan. Si kecil Edward yang gemar makan cokelat tiba-tiba tersedak. Sampai-sampai tidak bisa bernapas. William sempat panik dan kebingungan, namun Lily tetap tenang dan sigap.
"Edward cepat-cepat dijungkalkan ibunya. Punggungnya ditepuk-tepuk dengan keras. Cokelat itu akhirnya bisa keluar. Namun kejadian mencemaskan itu tidak bisa saya lupakan," kenang tokoh pendiri perusahaan Astra itu.
Resep Langgeng
William menyebutkan resep kelanggengan rumah tangganya adalah hanya kemauan untuk saling memberi. Itulah sebabnya, kadang mereka sering bepergian bersama. Meskipun tidak terlalu mahir, Lily dulu cukup sering menemani William saat bermain tenis. Namun hubungan mereka bukan selalu harmonis. Bak dalam sinetron, kadang mereka juga bertengkar sebagaimana layaknya suami istri.
"Paling-paling ribut soal anak. Yang nakal, anak yang paling tua.
Tapi biasa saja, kalau tidak ribut itu bukan perkawinan. Kalau dia sedang marah, saya pergi saja daripada berkelahi," kelakar kakek berusia 85 tahun yang masih gemar makan sate kambing dan durian itu.
Menurut Lily, resep menjaga keharmonisan rumah tangganya selama 60 tahun adalah berupaya saling memahami antara suami dan istri. Sebagai pasangan, mereka harus bekerja sama. Itulah sebabnya, permintaan suami sedapat mungkin ditindaklanjuti. Begitu pula sebaliknya.
"Dasarnya jangan melanggar asas kepercayaan. Suami dan istri haruslah saling mempercayai. Tentu saja, kita juga harus mengikuti ajaran yang telah ditetapkan Tuhan. Walaupun dididik orangtua untuk hidup mandiri dan hidup berdikari, dalam ikatan pernikahan sesuai nilai aturan kehidupan berkeluarga, saya tetap mengacu dan bekerja sama dengan suami," tutur wanita kelahiran Bandung yang pernah mengelola perusahaan batik orangtuanya di Yogyakarta.
Lily menambahkan suami istri harus saling bertanggung jawab dan bersama -sama merawat anak. Sebagai istri, dia memang lebih banyak membantu mengurusi anak-anak, karena suami sibuk dalam mengurus pekerjaannya. Tetapi Lily sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena kerja keras sang suami akhirnya bisa membangun perusahaan seperti Astra dan memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
"Kehidupan merupakan anugerah dari Tuhan dan kami berupaya untuk hidup sesuai dengan ajaran kristiani dalam keluarga, walaupun itu tidak mudah! Kami tetap harus mengucapkan syukur kepada Tuhan pada masa suka dan masa sulit," ia menambahkan.
Hingga kini, William dan Lily masih senang bepergian. Bahkan Lily cukup sering bepergian sendiri atau dengan teman. Sehari-hari, mereka nyaris tak pernah bisa tinggal diam. William dan Lily kerap mendatangi kantor di bilangan Jalan Sudirman. Tepat 15 Januari ini, mereka akan merayakan pesta pernikahan di sebuah hotel di Jakarta.
"Sebetulnya kami tidak aware bahwa mau dirayakan 60 tahun perkawinan. Sesungguhnya semua ini tidak lain adalah pemberian Tuhan semata. Dari mana lagi, kita mengharapkan sesuatu kalau bukan dari Tuhan? Maka dari itu kita mesti bersyukur," sambung William. [Pembaruan, 15 Januari 2007/Unggul Wirawan dan Willy Hangguman] ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
William adalah anak kedua dari enam bersaudara. Namun dalam keluarga, dia anak laki-laki tertua. Ketika masih kecil, dia sudah menjadi yatim piatu. Itulah sebabnya Wiliam alias Tjia Kian Liong tumbuh menjadi pria dewasa dan mandiri.
Saat masih sekolah di HCZS, sekolah dasar pada masa penjajahan Belanda, di Kadipaten, William kecil sempat tak naik kelas. Berkat ketekunan, dia dapat melanjutkan pendidikan ke MULO, sekolah tingkat lanjutan pertama, di Cirebon. Namun lagi-lagi, William tinggal kelas. Dari seluruh pelajaran, dia lebih menyukai ekonomi dan tata buku. Kelak, dua pelajaran itulah menunjukkan bakatnya membangun usaha.
Bulan Oktober 1934, ayahnya dipanggil menghadap Yang Kuasa. Awan duka belum hilang ketika ibu tercinta menyusul kepergian almarhum ayahnya pada Desember 1934. Sebagai anak laki-laki tertua, William melanjutkan usaha mendiang ayah berjualan hasil bumi. Bakat berdagang sang ayah rupanya menurun kuat pada William.
Beberapa tahun kemudian, William pindah ke Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang itulah, pria kelahiran Majalengka, 20 Desember 1922 ini, menemukan jodohnya. Seorang gadis Tionghoa bernama Lily Anwar memikat hatinya. Kelak, gadis itulah yang menjadi pasangan hidupnya hingga kini di usia 85 tahun.
"Kami bertemu di Bandung sekitar tahun 1943. Waktu itu, Lily adalah anggota Chinese Red Cross yang diketuai Om Dollar, ayah mertua dari Rudi Hartono (pebulutangkis, Red)," ia mengenang.
Ketika bertemu Lily seolah langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Berikutnya, mereka kerap bertemu saat kegiatan Chinese Red Cross berlangsung. Setelah menjalin hubungan selama beberapa tahun, mereka memutuskan untuk serius. Pada usia 24 tahun, William menikahi Lily yang ketika itu hanya terpaut usia satu tahun. Sekalipun keamanan sedang tidak kondusif, William nekat menikahi sang kekasih.
"Begitu kami bertemu dan bertatap pandang, kami pun sama-sama jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama. Gadis itu lincah, cantik, dan menarik. Menurut cerita teman, dia banyak yang naksir," katanya.
Nikah Tanpa Tamu
Tampaknya Lily memang telah mencuri hati William. Di masa muda, Lily memang gadis supel yang pandai bergaul. Terus terang, William terpikat karena Lily cantik dan menarik. Pada 15 Januari 1947, mereka menikah secara sangat sederhana. Bahkan, William tidak melakukan proses lamaran.
"Kami ke kantor catatan sipil naik becak. Kami menikah tanpa dihadiri tamu undangan. Kami pun hanya mengenakan baju biasa saja. Benar-benar sangat sederhana. Tidak ada tukang potret yang hadir, itu sebabnya kami tidak punya potret pernikahan. Setelah selesai nikah, kami pulang ke Jalan Merdeka naik becak lagi," ia menambahkan.
Dari pernikahan itu, pasangan William dan Lily dikaruniai empat anak yakni Edward (21 Mei 1948), Edwin (17 Juli 1942), Joyce (14 Agustus 1950), dan Judith (14 Februari 1952). Kini, mereka sudah memiliki 10 cucu dan satu cicit. Dalam waktu dekat, salah seorang cucu akan melangsungkan pernikahan.
"Dia pandai mengurus dan mendidik anak-anak. Dia juga berani berkorban untuk membela anak-anak dan suka menolong orang- orang yang kekurangan. Hal seperti itu kerap mengharukan saya," puji William untuk istrinya.
Belum dua minggu menikah, William pergi ke Belanda dan terpaksa meninggalkan Lily di Bandung. Beruntung kemudian, Lily bisa menyusul. Tahun 1948, ketika Edward lahir, William dan Lily hidup dari berjualan kacang dan rokok paket kiriman dari Bandung. Meskipun tak punya uang banyak, mereka masih dapat menyewa satu kamar di salah satu hotel di Amsterdam.
Suatu ketika, mereka melakukan perjalanan ke Basell, Swiss. Dengan tiket yang dibeli dari hasil berjualan, mereka menumpang kereta api. Dalam perjalanan selama satu minggu itu, William, Lily, dan si mungil Edward, hanya makan roti, bubur, dan susu untuk berhemat. Hingga akhirnya, William memutuskan kembali ke Indonesia pada Februari 1949. Kenangan-kenangan seperti itulah yang makin melekatkan hubungan kasih William dan Lily.
Di atas kapal laut yang membawa mereka pulang, William kembali mengalami kejadian yang cukup menakutkan. Si kecil Edward yang gemar makan cokelat tiba-tiba tersedak. Sampai-sampai tidak bisa bernapas. William sempat panik dan kebingungan, namun Lily tetap tenang dan sigap.
"Edward cepat-cepat dijungkalkan ibunya. Punggungnya ditepuk-tepuk dengan keras. Cokelat itu akhirnya bisa keluar. Namun kejadian mencemaskan itu tidak bisa saya lupakan," kenang tokoh pendiri perusahaan Astra itu.
Resep Langgeng
William menyebutkan resep kelanggengan rumah tangganya adalah hanya kemauan untuk saling memberi. Itulah sebabnya, kadang mereka sering bepergian bersama. Meskipun tidak terlalu mahir, Lily dulu cukup sering menemani William saat bermain tenis. Namun hubungan mereka bukan selalu harmonis. Bak dalam sinetron, kadang mereka juga bertengkar sebagaimana layaknya suami istri.
"Paling-paling ribut soal anak. Yang nakal, anak yang paling tua.
Tapi biasa saja, kalau tidak ribut itu bukan perkawinan. Kalau dia sedang marah, saya pergi saja daripada berkelahi," kelakar kakek berusia 85 tahun yang masih gemar makan sate kambing dan durian itu.
Menurut Lily, resep menjaga keharmonisan rumah tangganya selama 60 tahun adalah berupaya saling memahami antara suami dan istri. Sebagai pasangan, mereka harus bekerja sama. Itulah sebabnya, permintaan suami sedapat mungkin ditindaklanjuti. Begitu pula sebaliknya.
"Dasarnya jangan melanggar asas kepercayaan. Suami dan istri haruslah saling mempercayai. Tentu saja, kita juga harus mengikuti ajaran yang telah ditetapkan Tuhan. Walaupun dididik orangtua untuk hidup mandiri dan hidup berdikari, dalam ikatan pernikahan sesuai nilai aturan kehidupan berkeluarga, saya tetap mengacu dan bekerja sama dengan suami," tutur wanita kelahiran Bandung yang pernah mengelola perusahaan batik orangtuanya di Yogyakarta.
Lily menambahkan suami istri harus saling bertanggung jawab dan bersama -sama merawat anak. Sebagai istri, dia memang lebih banyak membantu mengurusi anak-anak, karena suami sibuk dalam mengurus pekerjaannya. Tetapi Lily sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena kerja keras sang suami akhirnya bisa membangun perusahaan seperti Astra dan memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
"Kehidupan merupakan anugerah dari Tuhan dan kami berupaya untuk hidup sesuai dengan ajaran kristiani dalam keluarga, walaupun itu tidak mudah! Kami tetap harus mengucapkan syukur kepada Tuhan pada masa suka dan masa sulit," ia menambahkan.
Hingga kini, William dan Lily masih senang bepergian. Bahkan Lily cukup sering bepergian sendiri atau dengan teman. Sehari-hari, mereka nyaris tak pernah bisa tinggal diam. William dan Lily kerap mendatangi kantor di bilangan Jalan Sudirman. Tepat 15 Januari ini, mereka akan merayakan pesta pernikahan di sebuah hotel di Jakarta.
"Sebetulnya kami tidak aware bahwa mau dirayakan 60 tahun perkawinan. Sesungguhnya semua ini tidak lain adalah pemberian Tuhan semata. Dari mana lagi, kita mengharapkan sesuatu kalau bukan dari Tuhan? Maka dari itu kita mesti bersyukur," sambung William. [Pembaruan, 15 Januari 2007/Unggul Wirawan dan Willy Hangguman] ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Memperbaiki Pendingin Udara Kereta - Edisi Malaysia

Product ID : 9789673711017
Format : Paperback
Author : Juni Handoko
Editor : Rosmawi Md Hassan
Publisher : Synergy Media
Publish Date : 01-OCT-2010
Main Category : MALAY GENERAL BOOKS
Sub Category : MALAY-GB OTHERS
Price : RM 21.50*
Gangguan pada sistem AC berlaku disebabkan oleh pelbagai faktor, salah satu faktor penyebabnya ialah kurangnya penjagaan dan perawatan.
Buku ini menjelaskan secara terperinci komponen dan fungsinya, jenis kerosakan dan cara membaikinya, serta petunjuk servis dan perawatan.
Memperbaiki Pendingin Udara - Edisi Malaysia
07 November 2010
KISAH SUKSES: Adi Kusuma, Pendiri Biznet
by Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia
Adi Kusuma sudah akrab dengan komputer sejak kecil. Ia pun sempat dijuluki kuper lantaran lebih suka bergumul dengan komputer. Namun tidak sia-sia, kegemarannya pada komputer telah membawanya sukses menjadi techno entrepreneur. Kini, perusahaan penyedia jasa broadband internet yang dirintisnya bisa bertahan dan terus berkembang, kendati harus bersaing keras.
Hampir setiap hari, kita dihujani tawaran koneksi internet yang kencang bin murah. Tawaran bertubi-tubi ini biasanya datang dari operator seluler. Bisnis dunia maya memang telah menjadi kontributor pendapatan operator. Pelanggan seluler yang hampir mencapai 100 juta orang, serta pengguna internet di Indonesia yang tahun lalu mencatat angka 25 juta, adalah pasar menggiurkan.
Padahal, sebelum operator ramai-ramai terjun di bisnis internet, sudah ada banyak perusahaan penyedia jasa internet alias internet service provider. Lantas, ke mana mereka sekarang? Beberapa perusahaan bisa tetap bertahan, namun banyak juga yang kalah bersaing harga dengan operator.
Untuk bisa bertahan, perusahaan penyedia jasa internet harus putar otak. Hal inilah yang dilakukan oleh Biznet. “Sebagai underdog, Biznet harus pintar mencari celah,” tutur Adi Kusma, pendiri Biznet.
Sesuai dengan namanya, sejak awal Biznet sudah membidik pasar perusahaan. Adi punya alasan sendiri ketika menyusun rencana bisnisnya. Menurut dia, perusahaan menggantungkan nasibnya pada sambungan internet, sehingga mereka lebih loyal. “Kalau sambungan internet mati, perusahaan kan rugi,” jelasnya. Ini berbeda dengan karakter pelanggan individual yang suka berganti-ganti penyedia internet.
Sekarang, Biznet memiliki sekitar 15.000 pelanggan. “80%-nya adalah pelanggan korporat,” ujar pria berusia 33 tahun ini. Pelanggan Biznet membayar tarif beragam, antara Rp 500.000 sampai Rp 10 juta sebulan.
Adi sendiri meyakini bahwa bisnis penyedia jasa internet punya prospek bagus. Adi memang sudah akrab dengan komputer sejak kecil. Ia pun suka mengutak-atik komputer.
Lulus SMA, Adi melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Industri, Oregon State University di USA. Pasalnya, orangtua Adi yang pengusaha ingin agar salah satu anaknya bisa melanjutkan bisnis baja mereka.
Tapi, Adi tak bisa meninggalkan dunia komputer. Selama kuliah di Amerika, ia juga ikut beberapa kursus software. Bahkan, saat kuliah, Adi diterima bekerja di Software House International, sebagai programer.
Adi kembali ke Indonesia setelah lulus kuliah, tahun 2000. Di Tanah Air, alih-alih meneruskan bisnis orangtuanya, Adi malah ingin mendirikan usaha sendiri. Ia menganggap bisnis penyedia jasa internet punya prospek yang sangat bagus di Indonesia. Maklum, waktu itu, pemainnya masih sedikit.
Jaringan sendiri
Berbekal modal US$ 5 juta, Adi yang waktu itu bekerja di salah satu perusahaan terafiliasi MID Plaza mencoba membuat jaringan wireless. Perusahaannya diberi nama Supra Primatama Nusantara, dengan merek dagang Biznet.
Awalnya, Adi hanya melayani internet broadband untuk tiga pelanggan, yakni tiga gedung di sekitar MID Plaza. “Waktu itu kecepatan aksesnya adalah 10 Mbps,” ujar Adi. Bandingkan dengan high speed packet access plus (HSPA+) yang bisa mencapai 21 Mpbs.
Lebih lagi, waktu itu infrastrukturnya hanya dimiliki PT Telkom. Jadi, Adi harus menyewa server dari luar negeri. Tambahan, “Menyewa bandwidth dari luar negeri masih sangat mahal, karena kabel laut yang masuk Indonesia sedikit,” kenang Adi lagi.
Sebenarnya, waktu Adi mendirikan Biznet, Indonesia sedang menggeliat untuk bangkit pasca-krisis moneter 1998. Waktu krismon, banyak perusahaan yang bangkrut, sehingga meninggalkan gedung. “Banyak perusahaan yang menahan pengeluaran mereka,” tutur Adi. Jadi, Adi harus meyakinkan para pelaku bisnis bahwa koneksi internet cepat sangat penting bagi perusahaan.
Lantaran biaya untuk sewa infrastruktur terbilang mahal, akhirnya, Adi memutuskan bahwa Biznet harus punya jaringan sendiri. Tujuan lain, dengan jaringan sendiri, dia bisa memberikan akses internet berkecepatan tinggi.
Maka, fokus Adi selanjutnya adalah membangun kabel optik milik perusahaan sendiri. Adi enggan berbagi angka, berapa modal yang ia tanamkan untuk jaringan ini. Namun, yang pasti pada tahun 2005, Biznet sudah menggunakan jaringan optik 10 kilometer di Jalan Sudirman.
Akses internet cepat ini ternyata bisa mendongkrak jumlah pelanggan Biznet. Pelanggan perusahaan, menurut Adi, cenderung memilih penyedia internet yang handal. Mereka tidak berorientasi pada harga layanan. “Percuma kalau harganya murah, tapi aksesnya tersendat-sendat,” celetuk Adi. Maka, Biznet pun tak ragu mematok harga premium.
Kini, Biznet sudah mengembangkan kabel optik sepanjang 1.100 km, dari Serang sampai Bali. Karyawan Biznet pun meningkat, dari hanya empat orang menjadi 200 orang. Biznet juga mengembangkan basis pelanggan individual.
Toh, Adi belum juga puas. Ia bilang Biznet sedang menyiapkan ekspansi di luar bisnis ISP. “Tapi, nanti tunggu saja tahun depan,” kata Adi berahasia.
Sumber: Kontan
Adi Kusuma sudah akrab dengan komputer sejak kecil. Ia pun sempat dijuluki kuper lantaran lebih suka bergumul dengan komputer. Namun tidak sia-sia, kegemarannya pada komputer telah membawanya sukses menjadi techno entrepreneur. Kini, perusahaan penyedia jasa broadband internet yang dirintisnya bisa bertahan dan terus berkembang, kendati harus bersaing keras.
Hampir setiap hari, kita dihujani tawaran koneksi internet yang kencang bin murah. Tawaran bertubi-tubi ini biasanya datang dari operator seluler. Bisnis dunia maya memang telah menjadi kontributor pendapatan operator. Pelanggan seluler yang hampir mencapai 100 juta orang, serta pengguna internet di Indonesia yang tahun lalu mencatat angka 25 juta, adalah pasar menggiurkan.
Padahal, sebelum operator ramai-ramai terjun di bisnis internet, sudah ada banyak perusahaan penyedia jasa internet alias internet service provider. Lantas, ke mana mereka sekarang? Beberapa perusahaan bisa tetap bertahan, namun banyak juga yang kalah bersaing harga dengan operator.
Untuk bisa bertahan, perusahaan penyedia jasa internet harus putar otak. Hal inilah yang dilakukan oleh Biznet. “Sebagai underdog, Biznet harus pintar mencari celah,” tutur Adi Kusma, pendiri Biznet.
Sesuai dengan namanya, sejak awal Biznet sudah membidik pasar perusahaan. Adi punya alasan sendiri ketika menyusun rencana bisnisnya. Menurut dia, perusahaan menggantungkan nasibnya pada sambungan internet, sehingga mereka lebih loyal. “Kalau sambungan internet mati, perusahaan kan rugi,” jelasnya. Ini berbeda dengan karakter pelanggan individual yang suka berganti-ganti penyedia internet.
Sekarang, Biznet memiliki sekitar 15.000 pelanggan. “80%-nya adalah pelanggan korporat,” ujar pria berusia 33 tahun ini. Pelanggan Biznet membayar tarif beragam, antara Rp 500.000 sampai Rp 10 juta sebulan.
Adi sendiri meyakini bahwa bisnis penyedia jasa internet punya prospek bagus. Adi memang sudah akrab dengan komputer sejak kecil. Ia pun suka mengutak-atik komputer.
Lulus SMA, Adi melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Industri, Oregon State University di USA. Pasalnya, orangtua Adi yang pengusaha ingin agar salah satu anaknya bisa melanjutkan bisnis baja mereka.
Tapi, Adi tak bisa meninggalkan dunia komputer. Selama kuliah di Amerika, ia juga ikut beberapa kursus software. Bahkan, saat kuliah, Adi diterima bekerja di Software House International, sebagai programer.
Adi kembali ke Indonesia setelah lulus kuliah, tahun 2000. Di Tanah Air, alih-alih meneruskan bisnis orangtuanya, Adi malah ingin mendirikan usaha sendiri. Ia menganggap bisnis penyedia jasa internet punya prospek yang sangat bagus di Indonesia. Maklum, waktu itu, pemainnya masih sedikit.
Jaringan sendiri
Berbekal modal US$ 5 juta, Adi yang waktu itu bekerja di salah satu perusahaan terafiliasi MID Plaza mencoba membuat jaringan wireless. Perusahaannya diberi nama Supra Primatama Nusantara, dengan merek dagang Biznet.
Awalnya, Adi hanya melayani internet broadband untuk tiga pelanggan, yakni tiga gedung di sekitar MID Plaza. “Waktu itu kecepatan aksesnya adalah 10 Mbps,” ujar Adi. Bandingkan dengan high speed packet access plus (HSPA+) yang bisa mencapai 21 Mpbs.
Lebih lagi, waktu itu infrastrukturnya hanya dimiliki PT Telkom. Jadi, Adi harus menyewa server dari luar negeri. Tambahan, “Menyewa bandwidth dari luar negeri masih sangat mahal, karena kabel laut yang masuk Indonesia sedikit,” kenang Adi lagi.
Sebenarnya, waktu Adi mendirikan Biznet, Indonesia sedang menggeliat untuk bangkit pasca-krisis moneter 1998. Waktu krismon, banyak perusahaan yang bangkrut, sehingga meninggalkan gedung. “Banyak perusahaan yang menahan pengeluaran mereka,” tutur Adi. Jadi, Adi harus meyakinkan para pelaku bisnis bahwa koneksi internet cepat sangat penting bagi perusahaan.
Lantaran biaya untuk sewa infrastruktur terbilang mahal, akhirnya, Adi memutuskan bahwa Biznet harus punya jaringan sendiri. Tujuan lain, dengan jaringan sendiri, dia bisa memberikan akses internet berkecepatan tinggi.
Maka, fokus Adi selanjutnya adalah membangun kabel optik milik perusahaan sendiri. Adi enggan berbagi angka, berapa modal yang ia tanamkan untuk jaringan ini. Namun, yang pasti pada tahun 2005, Biznet sudah menggunakan jaringan optik 10 kilometer di Jalan Sudirman.
Akses internet cepat ini ternyata bisa mendongkrak jumlah pelanggan Biznet. Pelanggan perusahaan, menurut Adi, cenderung memilih penyedia internet yang handal. Mereka tidak berorientasi pada harga layanan. “Percuma kalau harganya murah, tapi aksesnya tersendat-sendat,” celetuk Adi. Maka, Biznet pun tak ragu mematok harga premium.
Kini, Biznet sudah mengembangkan kabel optik sepanjang 1.100 km, dari Serang sampai Bali. Karyawan Biznet pun meningkat, dari hanya empat orang menjadi 200 orang. Biznet juga mengembangkan basis pelanggan individual.
Toh, Adi belum juga puas. Ia bilang Biznet sedang menyiapkan ekspansi di luar bisnis ISP. “Tapi, nanti tunggu saja tahun depan,” kata Adi berahasia.
Sumber: Kontan
27 October 2010
KISAH SUKSES: Hj RubiahSardjono: Wanita Bisa Menjadi Pengusaha Hebat
Wanita bisa menjadi pebisnis hebat. Kalimat ini bukan latah ikut-ikutan bicara emansipasi wanita yang kini kuat didengungkan. Wanita bisa menjadi pebisnis hebat adalah pengakuan jujur Hj Rubiyah Sardjono, seorang ibu rumah tangga yang kini menekuni bisnis Bengkel X-Tra.
Di sebuah seminar kewirausahaan bagi para purna tugas yang bekerja di perusahaan multinasional yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Administrasi, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang, Hj Rubiyah Sardjono bertanya kepada peserta yang mengikuti workshop kewirausahaan ini. “Orang seperti saya ini cocoknya bisnis apa,” ? ujarnya memancing pertanyaan. Banyak peserta yang mengatakan bahwa Hj Rubiyah Sardjono yang penampilannya seperti itu cocok bisnis katering. Ada juga yang nyeletuk bisnis salon penganten.
Mendengar jawaban seperti itu, Hj Rubiyah tersenyum masgul. Ia memang membenarkan semua jawaban yang diberikan para peserta tersebut. “Ya saya memang pernah berbisnis salon penganten, bisnis katering, dan jenis bisnis lainnya yang sering dilakukan oleh ibu rumah tangga, termasuk bisnis membuat kue kering,” ujarnya.
Suami Pindah Kerja, Bisnis Mulai Nol Lagi
Semua bisnis yang dijalani ibu dari empat orang anak ini semuanya berkembang dengan baik. Namun ketika suaminya harus pindah kerja sesuai tugas kantor, maka ia harus rela melepaskan bisnis yang sudah dirintisnya dengan susah payah ini. “Di Jakarta, saya pernah membuka usaha katering. Usaha maju, hasilnya bisa untuk membeli rumah dan keperluan lainnya. Namun usaha ini harus dilepas ke orang lain karena suami pindah kerja ke Surabaya,” ujarnya.
Dengan situasi seperti itu, Hj Rubiyah berfikir, mungkinkah ada bisnis yang bisa dikelola secara tidak langsung, artinya bisnisnya berjalan tanpa ia harus ada di sana tetapi menghasilkan. Karena terbiasa aktif berbisnis, Hj Rubiyah mencoba mengusulkan ide bisnis dengan membuka bengkel untuk kendaraan bermotor. Ide ini berawal dari pengamatannya bahwa pemilik bengkel kendaraan bermotor tidak harus berada setiap saat di lokasi usaha, dan rata-rata, sepengetahuannya, hasilnya cukup menjanjikan.
Ia, kemudian berdiskusi dengan suaminya, H Sardjono, yang menjadi karyawan disebuah perusahaan swasta, dan berlatar belakang sebagai seorang teknisi mesin. H Sardjono, suaminya, mencoba mengaktualisasikan ide yang ada di benak istrinya, dengan menggambar secara detail bentuk usaha bengkel kendaraan bermotor yang akan dijalankannya secara profesional. Usaha barunya ini dicoba dan dibuka tahun 1993 di Surabaya. Di luar dugaan, ternyata bengkelnya ramai luar biasa.
Fase Baru Bengkel Profesional
Setelah cukup lama bengkelnya dikenal banyak pelanggan, dan selalu ramai, ia mencoba mengajukan izin kepada Astra Honda Motor untuk membuka Bengkel AHASS. Seperti diketahui Astra Honda Motor dengan jaringan Bengkel AHASSnya memiliki segmen pasar yang luas yang telah dikenal sangat professional.
Ternyata prosesnya tidak semudah yang dibayangkan orang. Penuh lika-liku, membutuhkan banyak waktu dan kesabaran. Baru pada tahun 1999, izin yang diajukan Hj Rubiyah untuk membuka Bengkel AHASS dikabulkan oleh tim Astra Honda Motor. Izin sudah ditangan, tetapi ada masalah lain yang masih mengganjal. Ia diberikan izin dilokasi yang kurang strategis, alias msih sepi. Masalah lainnya, soal modal yang diperlukan untuk membuka Bengkel AHASS membutuhkan modal yang tidak sedikit.
“Saya harus menjual hampir semua asset yang saya miliki. Mulai dari rumah, mobil, hingga semua perhiasan yang saya miliki, baik yang sedang saya pakai maupun yang dipakai anak-anak,”ungkapnya. Perjuangan meyakinkan manajemen Astra Honda Motor bahwa Bengkel AHASS yang didirikannya akan ramai dan benar-benar beda, memang dibuktikannya. Bengkel AHASS itu ramai. Bahkan telah berkembang dari satu menjadi dua, kemudian bertambah lagi menjadi tiga Bengkel AHASS yang didirikannya. Hebatnya lagi, semua Bengkel AHASS miliknya merupakan Bengkel AHASS terbaik se Indonesia Wilayah Timur, bahkan jadi rujukan untuk standarisasi Bengkel AHASS di wilayah tersebut. Dari sinilah Hj Rubiyah menemukan passionnya bahwa ia memang cocok berbisnis bengkel kendaraan bermotor.
Ide Bisnis yang Terus Berkembang
Melihat pengelolaan Bengkel AHASS miliknya yang sudah berjalan dengan baik, dengan manajemen professional, ia mencoba mengembangkan ide bisnis lain untuk melengkapi bisnis bengkel kendaraan bermotor dengan bisnis salon dan cuci motor. Ide ini dibawa kepada seseorang, pemilik bisnis usaha franchise salon dan cuci motor yang cukup terkenal di Indonesia.
“Ternyata ide saya dibajak oleh perusahaan tersebut, termasuk uang saya sebesar Rp100juta yang raib dengan system bisnis yang tidak karuan rimbanya. Saya sudah mengikhlaskan, tetapi saya bertekad menjalankan ide bisnis ini dengan sekuat tenaga ,” ujarnya.
Berawal dari kepentok itulah, Hj Rubiyah memiliki tekad lebih kuat untuk mengoalkan ide-idenya dengan membuat usaha bengkel yang diinegrasikan dengan salon dan cuci motor. Ia memberi nama usahanya dengan brand MOTOR X-TRA. Hak cipta merek, dan izin patennya juga sudah keluar pada bulan November tahun 2007 lalu. Yang khas dari Bengkel MOTOR X-TRA adalah terintegrasinya layanan bengkel, cuci motor, salon serta berbagai keperluan bagi kendaraan motor lainnya. Ia bahkan menyebutnya sebagai bengkel yang one stop sevice untuk otomotif roda dua. Saat ini, setahun setelah Bengkel MOTOR X-TRA diluncurkan, sudah ada 6 cabang MOTOR X-TRA, diantaranya di Sidoarjo, Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Gresik.
Berbagi Sukses
Kesuksesan yang telah dinikmati Hj Rubiyah Sardjono, dalam mengelola Bengkel MOTOR X-Tra memberikan keyakinan bahwa bisnis yang dijalankan telah berjalan di rel yang benar.
“Saya menawarkan peluang bisnis yang sangat realisitis dengan modal yang tidak terlalu besar. Ada banyak pilihan paket usaha, mulai dari Paket One Stop Service senilai investasi Rp170juta, Paket Snow Wash &Oil Shop 3 SPH senilai investasi Rp92,3juta, Paket Snow Wash &Oil Shop 2 SPH senilai investasi Rp84,9juta, Paket Snow Wash senilai investasi Rp58,9juta, serta Paket Snow Wash + AHASS senilai investasi Rp57juta (Paket terakhir ini hanya diperuntukkan bagi para pemilik jaringan AHASS saja dn berlaku untuk satu alamat outlet saja).
Berdasarkan besarnya nilai investasi yang harus dipersiapkan oleh para calon investor atau mitra , Hj Rubiyah Sardjono mengungkapkan bahwa nilai yang ditawarkan sangat bersaing dibandingkan dengan usaha sejenis yang pernah ada. “Saya bisa katakanan, untuk investasi bisnis bergabung di Bengkel MOTOR X-TRA yang nilainya terbesar adalah paket investasi terkecil di usaha bengkel motor lain. Selisihnya jauh,” ujar Hj Rubiyah.
Apakah bisnis ini memiliki prospek yang bagus? Sepanjang yang telah dilakukan Hj Rubiyah dengan membuka 6 cabang Bengkel MOTOR X-TRA, serta pengalaman mengelola 3 Bengkel AHASS selama 15 tahun, ia yakin mampu membawa mitranya menuai hasil usaha seperti yang diharapkan, dengan meningkatkan pendapatan yang berasal dari cuci mobil, jasa bengkel dan salon, serta penjualan suku cadang kendaraan bermotor. Menurut Hj Tubiyah, pada prinsipnya sebuah usaha akan berhasil jika dalam menjalaninya memegang tiga prinsip usaha, yaitu jujur, tekun serta fokus.
Sumber: Wirausaha dan Keuangan
http://jpmi.or.id/
Di sebuah seminar kewirausahaan bagi para purna tugas yang bekerja di perusahaan multinasional yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Administrasi, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang, Hj Rubiyah Sardjono bertanya kepada peserta yang mengikuti workshop kewirausahaan ini. “Orang seperti saya ini cocoknya bisnis apa,” ? ujarnya memancing pertanyaan. Banyak peserta yang mengatakan bahwa Hj Rubiyah Sardjono yang penampilannya seperti itu cocok bisnis katering. Ada juga yang nyeletuk bisnis salon penganten.
Mendengar jawaban seperti itu, Hj Rubiyah tersenyum masgul. Ia memang membenarkan semua jawaban yang diberikan para peserta tersebut. “Ya saya memang pernah berbisnis salon penganten, bisnis katering, dan jenis bisnis lainnya yang sering dilakukan oleh ibu rumah tangga, termasuk bisnis membuat kue kering,” ujarnya.
Suami Pindah Kerja, Bisnis Mulai Nol Lagi
Semua bisnis yang dijalani ibu dari empat orang anak ini semuanya berkembang dengan baik. Namun ketika suaminya harus pindah kerja sesuai tugas kantor, maka ia harus rela melepaskan bisnis yang sudah dirintisnya dengan susah payah ini. “Di Jakarta, saya pernah membuka usaha katering. Usaha maju, hasilnya bisa untuk membeli rumah dan keperluan lainnya. Namun usaha ini harus dilepas ke orang lain karena suami pindah kerja ke Surabaya,” ujarnya.
Dengan situasi seperti itu, Hj Rubiyah berfikir, mungkinkah ada bisnis yang bisa dikelola secara tidak langsung, artinya bisnisnya berjalan tanpa ia harus ada di sana tetapi menghasilkan. Karena terbiasa aktif berbisnis, Hj Rubiyah mencoba mengusulkan ide bisnis dengan membuka bengkel untuk kendaraan bermotor. Ide ini berawal dari pengamatannya bahwa pemilik bengkel kendaraan bermotor tidak harus berada setiap saat di lokasi usaha, dan rata-rata, sepengetahuannya, hasilnya cukup menjanjikan.
Ia, kemudian berdiskusi dengan suaminya, H Sardjono, yang menjadi karyawan disebuah perusahaan swasta, dan berlatar belakang sebagai seorang teknisi mesin. H Sardjono, suaminya, mencoba mengaktualisasikan ide yang ada di benak istrinya, dengan menggambar secara detail bentuk usaha bengkel kendaraan bermotor yang akan dijalankannya secara profesional. Usaha barunya ini dicoba dan dibuka tahun 1993 di Surabaya. Di luar dugaan, ternyata bengkelnya ramai luar biasa.
Fase Baru Bengkel Profesional
Setelah cukup lama bengkelnya dikenal banyak pelanggan, dan selalu ramai, ia mencoba mengajukan izin kepada Astra Honda Motor untuk membuka Bengkel AHASS. Seperti diketahui Astra Honda Motor dengan jaringan Bengkel AHASSnya memiliki segmen pasar yang luas yang telah dikenal sangat professional.
Ternyata prosesnya tidak semudah yang dibayangkan orang. Penuh lika-liku, membutuhkan banyak waktu dan kesabaran. Baru pada tahun 1999, izin yang diajukan Hj Rubiyah untuk membuka Bengkel AHASS dikabulkan oleh tim Astra Honda Motor. Izin sudah ditangan, tetapi ada masalah lain yang masih mengganjal. Ia diberikan izin dilokasi yang kurang strategis, alias msih sepi. Masalah lainnya, soal modal yang diperlukan untuk membuka Bengkel AHASS membutuhkan modal yang tidak sedikit.
“Saya harus menjual hampir semua asset yang saya miliki. Mulai dari rumah, mobil, hingga semua perhiasan yang saya miliki, baik yang sedang saya pakai maupun yang dipakai anak-anak,”ungkapnya. Perjuangan meyakinkan manajemen Astra Honda Motor bahwa Bengkel AHASS yang didirikannya akan ramai dan benar-benar beda, memang dibuktikannya. Bengkel AHASS itu ramai. Bahkan telah berkembang dari satu menjadi dua, kemudian bertambah lagi menjadi tiga Bengkel AHASS yang didirikannya. Hebatnya lagi, semua Bengkel AHASS miliknya merupakan Bengkel AHASS terbaik se Indonesia Wilayah Timur, bahkan jadi rujukan untuk standarisasi Bengkel AHASS di wilayah tersebut. Dari sinilah Hj Rubiyah menemukan passionnya bahwa ia memang cocok berbisnis bengkel kendaraan bermotor.
Ide Bisnis yang Terus Berkembang
Melihat pengelolaan Bengkel AHASS miliknya yang sudah berjalan dengan baik, dengan manajemen professional, ia mencoba mengembangkan ide bisnis lain untuk melengkapi bisnis bengkel kendaraan bermotor dengan bisnis salon dan cuci motor. Ide ini dibawa kepada seseorang, pemilik bisnis usaha franchise salon dan cuci motor yang cukup terkenal di Indonesia.
“Ternyata ide saya dibajak oleh perusahaan tersebut, termasuk uang saya sebesar Rp100juta yang raib dengan system bisnis yang tidak karuan rimbanya. Saya sudah mengikhlaskan, tetapi saya bertekad menjalankan ide bisnis ini dengan sekuat tenaga ,” ujarnya.
Berawal dari kepentok itulah, Hj Rubiyah memiliki tekad lebih kuat untuk mengoalkan ide-idenya dengan membuat usaha bengkel yang diinegrasikan dengan salon dan cuci motor. Ia memberi nama usahanya dengan brand MOTOR X-TRA. Hak cipta merek, dan izin patennya juga sudah keluar pada bulan November tahun 2007 lalu. Yang khas dari Bengkel MOTOR X-TRA adalah terintegrasinya layanan bengkel, cuci motor, salon serta berbagai keperluan bagi kendaraan motor lainnya. Ia bahkan menyebutnya sebagai bengkel yang one stop sevice untuk otomotif roda dua. Saat ini, setahun setelah Bengkel MOTOR X-TRA diluncurkan, sudah ada 6 cabang MOTOR X-TRA, diantaranya di Sidoarjo, Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Gresik.
Berbagi Sukses
Kesuksesan yang telah dinikmati Hj Rubiyah Sardjono, dalam mengelola Bengkel MOTOR X-Tra memberikan keyakinan bahwa bisnis yang dijalankan telah berjalan di rel yang benar.
“Saya menawarkan peluang bisnis yang sangat realisitis dengan modal yang tidak terlalu besar. Ada banyak pilihan paket usaha, mulai dari Paket One Stop Service senilai investasi Rp170juta, Paket Snow Wash &Oil Shop 3 SPH senilai investasi Rp92,3juta, Paket Snow Wash &Oil Shop 2 SPH senilai investasi Rp84,9juta, Paket Snow Wash senilai investasi Rp58,9juta, serta Paket Snow Wash + AHASS senilai investasi Rp57juta (Paket terakhir ini hanya diperuntukkan bagi para pemilik jaringan AHASS saja dn berlaku untuk satu alamat outlet saja).
Berdasarkan besarnya nilai investasi yang harus dipersiapkan oleh para calon investor atau mitra , Hj Rubiyah Sardjono mengungkapkan bahwa nilai yang ditawarkan sangat bersaing dibandingkan dengan usaha sejenis yang pernah ada. “Saya bisa katakanan, untuk investasi bisnis bergabung di Bengkel MOTOR X-TRA yang nilainya terbesar adalah paket investasi terkecil di usaha bengkel motor lain. Selisihnya jauh,” ujar Hj Rubiyah.
Apakah bisnis ini memiliki prospek yang bagus? Sepanjang yang telah dilakukan Hj Rubiyah dengan membuka 6 cabang Bengkel MOTOR X-TRA, serta pengalaman mengelola 3 Bengkel AHASS selama 15 tahun, ia yakin mampu membawa mitranya menuai hasil usaha seperti yang diharapkan, dengan meningkatkan pendapatan yang berasal dari cuci mobil, jasa bengkel dan salon, serta penjualan suku cadang kendaraan bermotor. Menurut Hj Tubiyah, pada prinsipnya sebuah usaha akan berhasil jika dalam menjalaninya memegang tiga prinsip usaha, yaitu jujur, tekun serta fokus.
Sumber: Wirausaha dan Keuangan
http://jpmi.or.id/
25 October 2010
Kisah Sukses Mr. JOGER
Mr Joger Mr.JOGER. Orang kreatif adalah orang yang bisa memunculkan ide dan diterima orang lain dengan senang hati. Salah satunya adalah Joseph Theodorus Wulianadi alias Mr Joger, BAA, BSS (Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa). Pemilik pabrik katakata Joger ini bahkan disebut sebagai orang kreatif yang mampu memunculkan ide gila, aneh, menipu semua orang tapi bagaimana yang ditipu tidak merasa ditipu, dan malah merasa senang.
Berawal dari itikad baik untuk menjadi manusia yang baik, minimal tidak menjadi parasit di negeri tercinta atau tidak menjadi pengangguran atau menjadi beban bagi orang lain adalah motivasi awal bagi Mr Joger untuk merintis usaha. ”Saya ini kan bukan ahli bahasa. Saya juga bukan orang pintar. Tapi tampaknya saya punya keyakinan yang cukup untuk mendukung keberanian saya mengemukakan niat-niat baik melalui karya-karya saya yang jelek-jelek. Tapi bukan salah saya kalau ternyata banyak masyarakat dalam maupun luar negeri yang jatuh hati dan secara rutin mau membeli produk-produk Joger yang jelek-jelek tapi
unik ini,” tegas Mr Joger. Bisnis bagi saya adalah bagaimana caranya “menipu” konsumen secara baik-baik, sehingga mereka merasa senang dan merasa tidak ditipu, dan datang lagi minta ditipu secara berkesinambungan.
Marketing yang andal adalah orang yang sudah bisa mempengaruhi jiwa konsumen. Bukan lagi hanya kantongnya, sehingga orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Kunci keberhasilan adalah kejujuran yang mengandung itikad baik. Dalam berusaha saya tidak selalu memikirkan untung. Keuntungan hanya membuat kita kaya secara meteri, namun tidak secara batin. Untuk apa kaya kalau tidak bahagia? Bukan berarti saya menganjurkan miskin. Akan lebih rugi bila sudah miskin tidak bahagia. Jadi tujuan hidup bukan miskin atau kaya, tapi bahagia.Yang disebut bahagia adalah orang yang bisa berkarya untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk masyarakat. Kalau mau kaya, usahakan jangan sampai orang lain menjadi miskin karenanya. Saya mempunyai filosofi, “lebih baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi kurang.” Miskin di sini saya artikan adalah cukup. Kalau sudah merasa sudah cukup, untuk apa memikirkan banyak?
Dalam hidup saya memakai sistem kompromi. Separuh untuk nafkah separuh lagi untuk kehidupan. Karena mencari nafkah itu belum tentu hidup. Apabila sudah bisa menikmati hidup, barulah namanya
hidup. Hidup itu sebenarnya mudah karena Tuhan Maha Baik, Dia akan memberikan segala yang diminta hambanya. Manusia itu sering berbicara bahwa Tuhan Maha Tahu, tapi mereka sok. Tuhan Maha Kuasa tapi
kita sok kuasa akhirnya kita tidak mau rendah hati. Sebetulnya, kalau rendah hati, hidup ini jadi indah.
Selain mengelola Joger, saya juga sering menjadi pembicara di seminar-seminar.Saya sering mengungkapkan , kembangkanlah diri kalau mau percaya diri. Tapi sebelum mengembangkan diri, harustahu diri. Jadi intinya adalah tahu diri, setelah itu percaya diri. Bagaimana bisa berusaha, bila tidak percaya diri dan tidak bisa mengembangkan diri?
Sumber: www.entrepreneuruniversity.co.id
Berawal dari itikad baik untuk menjadi manusia yang baik, minimal tidak menjadi parasit di negeri tercinta atau tidak menjadi pengangguran atau menjadi beban bagi orang lain adalah motivasi awal bagi Mr Joger untuk merintis usaha. ”Saya ini kan bukan ahli bahasa. Saya juga bukan orang pintar. Tapi tampaknya saya punya keyakinan yang cukup untuk mendukung keberanian saya mengemukakan niat-niat baik melalui karya-karya saya yang jelek-jelek. Tapi bukan salah saya kalau ternyata banyak masyarakat dalam maupun luar negeri yang jatuh hati dan secara rutin mau membeli produk-produk Joger yang jelek-jelek tapi
unik ini,” tegas Mr Joger. Bisnis bagi saya adalah bagaimana caranya “menipu” konsumen secara baik-baik, sehingga mereka merasa senang dan merasa tidak ditipu, dan datang lagi minta ditipu secara berkesinambungan.
Marketing yang andal adalah orang yang sudah bisa mempengaruhi jiwa konsumen. Bukan lagi hanya kantongnya, sehingga orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Kunci keberhasilan adalah kejujuran yang mengandung itikad baik. Dalam berusaha saya tidak selalu memikirkan untung. Keuntungan hanya membuat kita kaya secara meteri, namun tidak secara batin. Untuk apa kaya kalau tidak bahagia? Bukan berarti saya menganjurkan miskin. Akan lebih rugi bila sudah miskin tidak bahagia. Jadi tujuan hidup bukan miskin atau kaya, tapi bahagia.Yang disebut bahagia adalah orang yang bisa berkarya untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk masyarakat. Kalau mau kaya, usahakan jangan sampai orang lain menjadi miskin karenanya. Saya mempunyai filosofi, “lebih baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi kurang.” Miskin di sini saya artikan adalah cukup. Kalau sudah merasa sudah cukup, untuk apa memikirkan banyak?
Dalam hidup saya memakai sistem kompromi. Separuh untuk nafkah separuh lagi untuk kehidupan. Karena mencari nafkah itu belum tentu hidup. Apabila sudah bisa menikmati hidup, barulah namanya
hidup. Hidup itu sebenarnya mudah karena Tuhan Maha Baik, Dia akan memberikan segala yang diminta hambanya. Manusia itu sering berbicara bahwa Tuhan Maha Tahu, tapi mereka sok. Tuhan Maha Kuasa tapi
kita sok kuasa akhirnya kita tidak mau rendah hati. Sebetulnya, kalau rendah hati, hidup ini jadi indah.
Selain mengelola Joger, saya juga sering menjadi pembicara di seminar-seminar.Saya sering mengungkapkan , kembangkanlah diri kalau mau percaya diri. Tapi sebelum mengembangkan diri, harustahu diri. Jadi intinya adalah tahu diri, setelah itu percaya diri. Bagaimana bisa berusaha, bila tidak percaya diri dan tidak bisa mengembangkan diri?
Sumber: www.entrepreneuruniversity.co.id
17 October 2010
Pramono, Dari Office Boy Jadi Milyader
Kisah perjalanan hidup A Pramono (34) mirip cerita sinetron. Belasan tahun lalu, ketika pria kelahiran Madiun ini mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, ia memulainya dengan menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu ia beralih menjadi pedagang ayam bakar di pinggir jalan. Ternyata sukses. Kini Pramono sudah menjadi miliarder yang memiliki banyak usaha. Siapa yang tidak ngiler?
“Kalau cerita saya dibikin sinetron mungkin akan menarik,” kata pria pemilik usaha Ayam Bakar Mas Mono ini ketika bercakap cakap dengan Warta Kota di salah satu kedainya di Jalan Tebet Raya No 57, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Namun, ayah satu anak yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. la meyakini, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin sukses mesti lewat perjuangan.
“Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Pramono.
Awalnya, suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang.
Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit, dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00. Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.
“Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood,” tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.
Pria yang menamatkan S3 (maksudnya tamat SD, SMP, SMA) di Madiun ini belakangan akrab dengan laptop karena dia menjadi salah seorang mentor nasional dari Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.
Menurut Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan karena dia tahu akari sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak macho dan keren.
“Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank,” ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1 miliar.
Senang Belajar
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.
Pramono benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya.
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dart perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.
“Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari,” ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.
“Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya dirt,” tegas Pramono.
Terlepas dart peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam. “Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya,” kata Pramono
sumber: www.purdiechandra.net
“Kalau cerita saya dibikin sinetron mungkin akan menarik,” kata pria pemilik usaha Ayam Bakar Mas Mono ini ketika bercakap cakap dengan Warta Kota di salah satu kedainya di Jalan Tebet Raya No 57, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Namun, ayah satu anak yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. la meyakini, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin sukses mesti lewat perjuangan.
“Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Pramono.
Awalnya, suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang.
Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit, dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00. Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.
“Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood,” tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.
Pria yang menamatkan S3 (maksudnya tamat SD, SMP, SMA) di Madiun ini belakangan akrab dengan laptop karena dia menjadi salah seorang mentor nasional dari Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.
Menurut Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan karena dia tahu akari sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak macho dan keren.
“Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank,” ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1 miliar.
Senang Belajar
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.
Pramono benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya.
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dart perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.
“Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari,” ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.
“Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya dirt,” tegas Pramono.
Terlepas dart peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam. “Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya,” kata Pramono
sumber: www.purdiechandra.net
13 October 2010
Mereka yang Sukses "from Emperan to Empire"
JAKARTA, KOMPAS.com — Ada pepatah, "Kesuksesan lahir dari keberanian mengalahkan ketakutan". Mungkin idiom ini yang menjadi pecutan bagi Fachrur Rozi dan Fadli hingga berani memulai sebuah usaha yang berawal dari modal Rp 100.000 hasil "bantingan" bersama. Kini, Rozi dan Fadli sudah menangguk hasil dari perjuangannya dalam waktu dua tahun ini. Dari Rp 100.000, dalam satu tahun saja, omzetnya sudah mencapai Rp 1 miliar. Bahkan, saat ini dalam sebulan sedikitnya berhasil mencapai transaksi hingga Rp 600 juta. Usaha apa, sih, mereka?
Berawal dari modal Rp 100.000, Rozi dan Fadli memulai usaha membuat sandal-sandal yang imut dan lucu. Mereka menyebutnya "imucu". Bentuknya macam-macam, ada hewan dan buah-buahan. Awalnya mereka mencari agen dengan melakukan promosi di emperan. "Makanya, tagline yang menjadi semangat kami sekarang, from emperan to empire. Karena tadinya kami usaha di emperan, sekarang sudah jadi empire," kata Rozi, yang menangani bidang pemasaran, kepada Kompas.com saat ditemui di ajang Pekan Wirausaha di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Minggu (11/4/2010).
Kesuksesan mereka tak hadir begitu saja. Sebelum memulai bisnis sandal-sandal lucu, Rozi dan Fadli masing-masing pernah mencoba berbagai bidang usaha. Mulai dari usaha roti bakar hingga mi ayam. Saat itu mereka juga masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan. "Dari yang semula hanya berdua, sekarang kami sudah punya karyawan 50 orang dan punya tim kreatif sendiri. Ceritanya, saya dan Fadli lagi sama-sama jatuh, punya utang banyak karena bisnis yang kami coba gagal. Tapi, saat itu masih kerja. Penghasilan bulanan hanya buat nutup utang. Akhirnya, kami menemukan sebuah produk, uang Rp 100.000-lah dipakai untuk buat prototipe sandalnya," kisah Rozi.
Kemudian, lanjut Rozi, mereka mengambil celah berpromosi dalam sebuah pameran franchise di Surabaya, Jawa Timur. Lebih dari 500 brosur mereka bagikan di area parkir lokasi pameran. "Sampai kami kejar-kejaran sama anggota satpam karena yang ikut pameran aja bayarnya Rp 30 juta. Kami enggak bayar, kok, seenaknya promosi, mungkin dilihat seperti itu. Akhirnya, dari hasil promosi, kami mendapatkan 10 agen," katanya.
Setiap agen harus membeli paket seharga Rp 250.000. Uang sebesar Rp 2,5 juta dari 10 agen inilah yang digunakan Rozi dan Fadli untuk memproduksi sandal lucu. Dari situ, order yang mereka terima semakin tinggi. Dalam satu tahun pertama, usaha mereka praktis tanpa saingan sehingga bisa mencapai pemasukan Rp1 miliar dalam satu tahun pertama. "Tapi, dalam tiga bulan pertama kami enggak dapat apa-apa. Semua keuntungan diputar lagi jadi modal. Bulan keempat baru kami berpikir bahwa tenaga yang kami sisakan sepulang kantor untuk mbungkusin produk juga harus dihargai. Akhirnya, ya, kami ambil keuntungan dibagi Rp 600.000 per orang. Berikutnya berlipat ganda," ujar Rozi.
Setelah melihat perkembangan bisnis yang pesat, Rozi dan Fadli mengambil keputusan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan fokus menekuni usaha. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah memproduksi kaus-kaus lucu bagi anak-anak dan produk sandal jepit unik bagi remaja. Untuk sandal lucu, setiap agen bisa membeli 150 pasang sandal dengan modal Rp 2 juta. Sementara paket reseller, 15 pasang dengan modal Rp 250.000.
Kini, semua usaha itu juga dipasarkan secara online melalui beberapa situs web, di antaranya www.rajasendal.com dan www.myjapit.com. "Memulai bisnis itu jangan takut, tapi juga jangan ngawur. Sekali dua kali mungkin gagal, tetapi jangan berhenti. Biasanya mereka yang gagal berbisnis karena mereka berhenti untuk mencoba lagi. Memulai usaha itu tidak selalu dengan modal besar," kata Rozi.
ref:http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/04/11/14163861/Mereka.yang.Sukses.from.Emperan.to.Empire.
Berawal dari modal Rp 100.000, Rozi dan Fadli memulai usaha membuat sandal-sandal yang imut dan lucu. Mereka menyebutnya "imucu". Bentuknya macam-macam, ada hewan dan buah-buahan. Awalnya mereka mencari agen dengan melakukan promosi di emperan. "Makanya, tagline yang menjadi semangat kami sekarang, from emperan to empire. Karena tadinya kami usaha di emperan, sekarang sudah jadi empire," kata Rozi, yang menangani bidang pemasaran, kepada Kompas.com saat ditemui di ajang Pekan Wirausaha di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Minggu (11/4/2010).
Kesuksesan mereka tak hadir begitu saja. Sebelum memulai bisnis sandal-sandal lucu, Rozi dan Fadli masing-masing pernah mencoba berbagai bidang usaha. Mulai dari usaha roti bakar hingga mi ayam. Saat itu mereka juga masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan. "Dari yang semula hanya berdua, sekarang kami sudah punya karyawan 50 orang dan punya tim kreatif sendiri. Ceritanya, saya dan Fadli lagi sama-sama jatuh, punya utang banyak karena bisnis yang kami coba gagal. Tapi, saat itu masih kerja. Penghasilan bulanan hanya buat nutup utang. Akhirnya, kami menemukan sebuah produk, uang Rp 100.000-lah dipakai untuk buat prototipe sandalnya," kisah Rozi.
Kemudian, lanjut Rozi, mereka mengambil celah berpromosi dalam sebuah pameran franchise di Surabaya, Jawa Timur. Lebih dari 500 brosur mereka bagikan di area parkir lokasi pameran. "Sampai kami kejar-kejaran sama anggota satpam karena yang ikut pameran aja bayarnya Rp 30 juta. Kami enggak bayar, kok, seenaknya promosi, mungkin dilihat seperti itu. Akhirnya, dari hasil promosi, kami mendapatkan 10 agen," katanya.
Setiap agen harus membeli paket seharga Rp 250.000. Uang sebesar Rp 2,5 juta dari 10 agen inilah yang digunakan Rozi dan Fadli untuk memproduksi sandal lucu. Dari situ, order yang mereka terima semakin tinggi. Dalam satu tahun pertama, usaha mereka praktis tanpa saingan sehingga bisa mencapai pemasukan Rp1 miliar dalam satu tahun pertama. "Tapi, dalam tiga bulan pertama kami enggak dapat apa-apa. Semua keuntungan diputar lagi jadi modal. Bulan keempat baru kami berpikir bahwa tenaga yang kami sisakan sepulang kantor untuk mbungkusin produk juga harus dihargai. Akhirnya, ya, kami ambil keuntungan dibagi Rp 600.000 per orang. Berikutnya berlipat ganda," ujar Rozi.
Setelah melihat perkembangan bisnis yang pesat, Rozi dan Fadli mengambil keputusan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan fokus menekuni usaha. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah memproduksi kaus-kaus lucu bagi anak-anak dan produk sandal jepit unik bagi remaja. Untuk sandal lucu, setiap agen bisa membeli 150 pasang sandal dengan modal Rp 2 juta. Sementara paket reseller, 15 pasang dengan modal Rp 250.000.
Kini, semua usaha itu juga dipasarkan secara online melalui beberapa situs web, di antaranya www.rajasendal.com dan www.myjapit.com. "Memulai bisnis itu jangan takut, tapi juga jangan ngawur. Sekali dua kali mungkin gagal, tetapi jangan berhenti. Biasanya mereka yang gagal berbisnis karena mereka berhenti untuk mencoba lagi. Memulai usaha itu tidak selalu dengan modal besar," kata Rozi.
ref:http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/04/11/14163861/Mereka.yang.Sukses.from.Emperan.to.Empire.
08 October 2010
KISAH SUKSES: Ridwan Kamil: Hidup adalah Memberi
Dengan tinggal serta memiliki kantor kecil di Bandung (hanya cukup untuk 25 orang), juga berprofesi sebagai dosen Arsitektur ITB dan ketua Bandung Creative City Forum, Ridwan Kamil mematahkan mitos bahwa untuk sukses harus tinggal di Jakarta, memiliki kantor yang besar dan harus bekerja sebagai full professional.
Bersama Urbane (Urban Evolution) sebagai jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain yang dia dirikan pada tahun 2004, Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil banyak menghasilkan karya arsitektur di berbagai negara seperti di Singapura, Thailand, Bahrain, Cina, Vietnam, Uni Emirat Arab dan tentu saja di Indonesia. Umumnya proyek ini berupa pengembangan kawasan perkotaan seluas 10-1000 ha atau disebut sebagai mega proyek.
Beberapa contoh proyek yang ditangani Emil diantaranya seperti Marina Bay Waterfront Master di Singapura, Sukhotai Urban Resort Master Plan di Bangkok, Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar, juga District 1 Saigon South Residential Master Plan di Saigon. Sementara di Cina ada Shao Xing Waterfront Masterplan, Beijing CBD Master Plan, dan Guangzhou Science City Master Plan.
Sedangkan di Jakarta Emil menggarap Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum, dari luas lahan sebesar 12 ha itu nantinya akan dibangung Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, retail, dan waterfront. Sebelum itu diantaranya dia juga mendisain Menara I Universitas Tarumanegara, Al-Azhar International School di Kota Baru Parahyangan, Bandung, lalu Grand Wisata Community Club House di Bekasi, Pupuk Kaltim IT Center di Balik Papan, dan masih banyak lagi.
Keberhasilan itu ditambah lagi dengan penghargaan menjuarai 20 sayembara, baik bersama Urbane maupun secara pribadi. Sebagai contoh, pada tahun 2009 dan 2008 Urbane mendapat penghargaan BCI Asia Top 10 Awards untuk kategori rancangan bangunan bisnis. Selain itu Emil juga menjadi juara dalam merancang Museum Tsunami di Aceh dan memenangkan Young Creative Entrepreneur Award pada tahun 2006 dari British Council.
Lahir di Bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 Emil adalah anak kedua dari lima bersaudara. sejak kecil Emil sebenarnya suka berimajinasi. Dia suka membaca komik dan melihat foto-foto berbagai kota sepulang ayahnya dari luar negeri. Dari hal yang terakhir kemudian muncul bayangan akan kota yang dapat membuat nyaman masyarakat. Selain itu sejak kecil Emil juga sudah memiliki jiwa wirausaha. Sewaktu SD dia pernah berjualan es mambo buatannya sendiri.
Selama masa sekolah Emil dikenal sebagai pribadi yang aktif dan cerdas. Selain aktif di OSIS, Paskibra dan klub sepakbola, Emil selalu masuk urutan lima besar di kelas. Semasa kuliah di jurusan Arsitektur ITB, Emil juga aktif di himpunan mahasiswa dan unit kegiatan seni Sunda.
Di kampusnya jiwa wirausaha Emil kemudian tumbuh lagi, untuk mencari dana tambahan untuk keperluan kuliahnya Emil membuat ilustrasi cat air atau maket untuk dosen. Pada tahun 1997 Emil lulus dari ITB dan memilih untuk bekerja di Amerika Serikat. Tapi baru empat bulan bekerja dia dipecat karena imbas krisis moneter membuat klien asal Indonesia tidak membayar pekerjaanya.
Malu untuk pulang Emil berusaha untuk tetap di Amerika, dan akhirnya dia mendapatkan beasiswa S2 di University of California, Berkeley. Untuk bertahan hidup dia merasakan makan sehari sekali dengan menu murahan seharga 99 sen dan bekerja di paruh waktu di dinas tata kota Berkele.
Di Amerika pengalaman untuk bertahan hidup Emil terus bertambah ketika istrinya, Atalia Praratya, akan melahirkan anak pertama. Bapak yang kini memiliki dua anak itu tidak punya uang sehingga akhirnya dia harus mengaku miskin pada pemerintahan kota setempat agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Akhirnya, dia menemani sang istri melahirkan di rumah sakit khusus orang miskin, tepatnya di bangsal yang penuh dengan ibu-ibu menjerit kesakitan ketika melahirkan.
Baginya pengalaman jatuh-bangun itulah yang membentuk nilai-nilai hidupnya. Emil yang juga penulis blog ini juga mengaku dia tidak akan melupakan pengalaman itu dan justru pengalaman itulah yang dijadikannya motivasi. Pada tahun 2002 Emil kembali ke Indonesia dan dua tahun kemudian dia mendirikan Urbane.
Menurut Emil pada empat tahun pertama Urbane memiliki target untuk membangun reputasi secara komersil, sementara empat tahun berikutnya, yang artinya sekarang, Urbane fokus pada membangun masyarakat miskin kota. Masalah yang pernah dia alami sendiri.
Dari seluruh pengalamannya itu maka Emil memiliki filosofi to live is to give, hidup adalah untuk memberi. Kesuksesan dirinya bersama Urbane saat ini dia sadari hanya keberuntungan karena roda kehidupan kadang di atas, kadang di bawah. Orang bilang kalau mati orang meninggalkan nama, tapi bagi Emil keinginan tertingginya jika dia mati nanti adalah meninggalkan inspirasi, ide dan cerita yang bisa dilanjutkan oleh orang lain.
Sumber: indonesiakreatif.net
Dapatkan artikel KISAH SUKSES lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
Bersama Urbane (Urban Evolution) sebagai jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain yang dia dirikan pada tahun 2004, Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil banyak menghasilkan karya arsitektur di berbagai negara seperti di Singapura, Thailand, Bahrain, Cina, Vietnam, Uni Emirat Arab dan tentu saja di Indonesia. Umumnya proyek ini berupa pengembangan kawasan perkotaan seluas 10-1000 ha atau disebut sebagai mega proyek.
Beberapa contoh proyek yang ditangani Emil diantaranya seperti Marina Bay Waterfront Master di Singapura, Sukhotai Urban Resort Master Plan di Bangkok, Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar, juga District 1 Saigon South Residential Master Plan di Saigon. Sementara di Cina ada Shao Xing Waterfront Masterplan, Beijing CBD Master Plan, dan Guangzhou Science City Master Plan.
Sedangkan di Jakarta Emil menggarap Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum, dari luas lahan sebesar 12 ha itu nantinya akan dibangung Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, retail, dan waterfront. Sebelum itu diantaranya dia juga mendisain Menara I Universitas Tarumanegara, Al-Azhar International School di Kota Baru Parahyangan, Bandung, lalu Grand Wisata Community Club House di Bekasi, Pupuk Kaltim IT Center di Balik Papan, dan masih banyak lagi.
Keberhasilan itu ditambah lagi dengan penghargaan menjuarai 20 sayembara, baik bersama Urbane maupun secara pribadi. Sebagai contoh, pada tahun 2009 dan 2008 Urbane mendapat penghargaan BCI Asia Top 10 Awards untuk kategori rancangan bangunan bisnis. Selain itu Emil juga menjadi juara dalam merancang Museum Tsunami di Aceh dan memenangkan Young Creative Entrepreneur Award pada tahun 2006 dari British Council.
Lahir di Bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 Emil adalah anak kedua dari lima bersaudara. sejak kecil Emil sebenarnya suka berimajinasi. Dia suka membaca komik dan melihat foto-foto berbagai kota sepulang ayahnya dari luar negeri. Dari hal yang terakhir kemudian muncul bayangan akan kota yang dapat membuat nyaman masyarakat. Selain itu sejak kecil Emil juga sudah memiliki jiwa wirausaha. Sewaktu SD dia pernah berjualan es mambo buatannya sendiri.
Selama masa sekolah Emil dikenal sebagai pribadi yang aktif dan cerdas. Selain aktif di OSIS, Paskibra dan klub sepakbola, Emil selalu masuk urutan lima besar di kelas. Semasa kuliah di jurusan Arsitektur ITB, Emil juga aktif di himpunan mahasiswa dan unit kegiatan seni Sunda.
Di kampusnya jiwa wirausaha Emil kemudian tumbuh lagi, untuk mencari dana tambahan untuk keperluan kuliahnya Emil membuat ilustrasi cat air atau maket untuk dosen. Pada tahun 1997 Emil lulus dari ITB dan memilih untuk bekerja di Amerika Serikat. Tapi baru empat bulan bekerja dia dipecat karena imbas krisis moneter membuat klien asal Indonesia tidak membayar pekerjaanya.
Malu untuk pulang Emil berusaha untuk tetap di Amerika, dan akhirnya dia mendapatkan beasiswa S2 di University of California, Berkeley. Untuk bertahan hidup dia merasakan makan sehari sekali dengan menu murahan seharga 99 sen dan bekerja di paruh waktu di dinas tata kota Berkele.
Di Amerika pengalaman untuk bertahan hidup Emil terus bertambah ketika istrinya, Atalia Praratya, akan melahirkan anak pertama. Bapak yang kini memiliki dua anak itu tidak punya uang sehingga akhirnya dia harus mengaku miskin pada pemerintahan kota setempat agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Akhirnya, dia menemani sang istri melahirkan di rumah sakit khusus orang miskin, tepatnya di bangsal yang penuh dengan ibu-ibu menjerit kesakitan ketika melahirkan.
Baginya pengalaman jatuh-bangun itulah yang membentuk nilai-nilai hidupnya. Emil yang juga penulis blog ini juga mengaku dia tidak akan melupakan pengalaman itu dan justru pengalaman itulah yang dijadikannya motivasi. Pada tahun 2002 Emil kembali ke Indonesia dan dua tahun kemudian dia mendirikan Urbane.
Menurut Emil pada empat tahun pertama Urbane memiliki target untuk membangun reputasi secara komersil, sementara empat tahun berikutnya, yang artinya sekarang, Urbane fokus pada membangun masyarakat miskin kota. Masalah yang pernah dia alami sendiri.
Dari seluruh pengalamannya itu maka Emil memiliki filosofi to live is to give, hidup adalah untuk memberi. Kesuksesan dirinya bersama Urbane saat ini dia sadari hanya keberuntungan karena roda kehidupan kadang di atas, kadang di bawah. Orang bilang kalau mati orang meninggalkan nama, tapi bagi Emil keinginan tertingginya jika dia mati nanti adalah meninggalkan inspirasi, ide dan cerita yang bisa dilanjutkan oleh orang lain.
Sumber: indonesiakreatif.net
Dapatkan artikel KISAH SUKSES lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
02 October 2010
Berani Dulu, Baru Trampil
Saya bisanya hanya nggodhog wedang atau merebus air, tapi akhirnya saya bisa
juga punya restoran. Itu karena, saya punya keberanian." Purdi E.Chandra
Saat saya berbicara pada kuliah kewirausahaan di Fakultas Ekonomi sebuah universitas swasta di Yogyakarta, saya sempat ditanya para mahasiswa: “Apakah seorang untuk menjadi pengusaha itu harus memiliki keterampilan dulu ?”
Saya rasa, ini pertanyaan bagus. Pertanyaan yang sama pernah juga hinggap di benak saya, yaitu saat saya baru memulai menjadi pengusaha. Saat pertanyaan ini saya balikkan pada mereka, teryata sebagian besar mahasiswa mengatakan: “Perlu terampil dulu, baru berani memulai usaha.”
Saya rasa jawaban mereka tidak bisa disalahkan. Mereka cenderung menggunakan otak rasional. Padahal menurut saya, untuk menjadi pengusaha, kita harus berani dulu memulai usaha, baru setelah itu memiliki keterampilan. Bukan sebaliknya, terampil dulu, baru berani memulai usaha.
Sebab, saya melihat di Indonesia, ini sebenarya banyak sekali pengangguran yang tidak sedikit memiliki keterampilan tertentu. Namun, mereka tidak punya keberanian memulai usaha. Akibatnya, keterampilan yang dimiliki apakah itu yang diperolehnya saat sekolah atau bekerja sebelumnya, akhirnya banyak yang tidak dimanfaatkan. Itu ‘kan sayang sekali.
Seperti yang saya alami sendiri, saat membuka usaha Restoran Padang Sari Raja. Saya katakan pada mereka, bahwa terus terang saya tidak bisa membuat masakan padang yang enak. saya penikmat masakan padang. Tapi saya tidak tahu bumbunya apa saja yang membuat masakan tersebut enak. Saya katakan pada mereka: “Saya bisanya hanya nggodhog wedang atau merebus air”. Itu artinya apa? Saya bisa punya usaha restoran,
karena saya punya keberanian.
Begitu juga, saat saya dulu membuka usaha Bimbingan Belajar Primagama. Saya belum pernah mengajar atau menjadi tentor di tempat lain. Bahkan saya belum pernah menjadi karyawan di perusahaan orang lain. Namun, saya memberanikan diri untuk membuka usaha tersebut. Sebab, saya berpendapat, kalau kita tidak punya keterampilan, maka banyak orang lain yang terampil di bidangnya bisa menjadi mitra usaha kita.
Karena itu bagi saya, yang terpenting adalah keberanian dulu membuka usaha. Apapun jenisnya, apapun namanya. Sebab, sesungguhnya, untuk menjadi pengusaha, keterampilan bukan segala-galanya. Tetapi keberanian memulai usaha itulah yang harus kita miliki terlebih dahulu.
Banyak contoh, orang yang sukses menjadi manajer, tapi ternyata belum tentu sukses sebagai entrepreneur. sebaliknya, seseorang yang di awal memulai usaha dengan tidak memiliki keterampilan manajerial, tetapi ia memiliki keberanian memulai usaha, banyak yang ternyata berhasil. Orang jenis terakhir ini selain memiliki keberanian, juga mau mengembangkan jiwa entrepreneur. Oleh karena itulah saya kira, jiwa entrepreneur, harus kita bangun atau kita bentuk sejak awal.
Sumber: www.entrepreneuruniversity.co.id
juga punya restoran. Itu karena, saya punya keberanian." Purdi E.Chandra
Saat saya berbicara pada kuliah kewirausahaan di Fakultas Ekonomi sebuah universitas swasta di Yogyakarta, saya sempat ditanya para mahasiswa: “Apakah seorang untuk menjadi pengusaha itu harus memiliki keterampilan dulu ?”
Saya rasa, ini pertanyaan bagus. Pertanyaan yang sama pernah juga hinggap di benak saya, yaitu saat saya baru memulai menjadi pengusaha. Saat pertanyaan ini saya balikkan pada mereka, teryata sebagian besar mahasiswa mengatakan: “Perlu terampil dulu, baru berani memulai usaha.”
Saya rasa jawaban mereka tidak bisa disalahkan. Mereka cenderung menggunakan otak rasional. Padahal menurut saya, untuk menjadi pengusaha, kita harus berani dulu memulai usaha, baru setelah itu memiliki keterampilan. Bukan sebaliknya, terampil dulu, baru berani memulai usaha.
Sebab, saya melihat di Indonesia, ini sebenarya banyak sekali pengangguran yang tidak sedikit memiliki keterampilan tertentu. Namun, mereka tidak punya keberanian memulai usaha. Akibatnya, keterampilan yang dimiliki apakah itu yang diperolehnya saat sekolah atau bekerja sebelumnya, akhirnya banyak yang tidak dimanfaatkan. Itu ‘kan sayang sekali.
Seperti yang saya alami sendiri, saat membuka usaha Restoran Padang Sari Raja. Saya katakan pada mereka, bahwa terus terang saya tidak bisa membuat masakan padang yang enak. saya penikmat masakan padang. Tapi saya tidak tahu bumbunya apa saja yang membuat masakan tersebut enak. Saya katakan pada mereka: “Saya bisanya hanya nggodhog wedang atau merebus air”. Itu artinya apa? Saya bisa punya usaha restoran,
karena saya punya keberanian.
Begitu juga, saat saya dulu membuka usaha Bimbingan Belajar Primagama. Saya belum pernah mengajar atau menjadi tentor di tempat lain. Bahkan saya belum pernah menjadi karyawan di perusahaan orang lain. Namun, saya memberanikan diri untuk membuka usaha tersebut. Sebab, saya berpendapat, kalau kita tidak punya keterampilan, maka banyak orang lain yang terampil di bidangnya bisa menjadi mitra usaha kita.
Karena itu bagi saya, yang terpenting adalah keberanian dulu membuka usaha. Apapun jenisnya, apapun namanya. Sebab, sesungguhnya, untuk menjadi pengusaha, keterampilan bukan segala-galanya. Tetapi keberanian memulai usaha itulah yang harus kita miliki terlebih dahulu.
Banyak contoh, orang yang sukses menjadi manajer, tapi ternyata belum tentu sukses sebagai entrepreneur. sebaliknya, seseorang yang di awal memulai usaha dengan tidak memiliki keterampilan manajerial, tetapi ia memiliki keberanian memulai usaha, banyak yang ternyata berhasil. Orang jenis terakhir ini selain memiliki keberanian, juga mau mengembangkan jiwa entrepreneur. Oleh karena itulah saya kira, jiwa entrepreneur, harus kita bangun atau kita bentuk sejak awal.
Sumber: www.entrepreneuruniversity.co.id
Kaya Ide, Miskin Keberanian
Kita harus ada keberanian untuk jatuh - bangun".Purdi E. Chandra.
Ada sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta “Entrepreneur University” angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. “Saya begitu banyak sekali ide bisnis, tapi nyatanya tak ada satu pun ide bisnis itu terealisir. Akibabnya, saya hanya sekadar kaya ide, tapi bisnis tak ada?”, tanya peserta yang kebetulan ibu-rumah tangga itu.
Saya kira, pertanyaan atau kejadian seperti itu tak hanya dialami oleh ibu tadi, tapi juga cukup banyak dialami oleh kita semua, bahwa yang namanya ide bisnis itu adaada saja. Tapi, yah hanya sekadar ide bisnis, sementara bisnisnya nol atau tak terwujud sama sekali. Terkadang ide yang tidak kita realisir justru sudah dicoba lebih dulu oleh orang lain. Dalam konteks ini, saya berpendapat, sebenarnya untuk membuat bisnis, memang dibutuhkan ide. Hanya saja, karena kita hanya kaya ide, namun miskin keberanian untuk mencobanya, maka yang berkembang adalah idenya, sedang bisnisnya nol.
Menurut saya, miskinnya keberanian itu bermula ketika kita mendapat pendidikan di sekolah atau di bangku kuliah, yang kita dapat hanyalah teori semata. Jadi, kita terlalu banyak berteori, tapi miskin praktek. Akibatnya, ketika kita kaya ide, miskin keberanian. Artinya, kalau kita hanya menguasai teori, namun kalau tidak bisa dipraktekkan, maka ide bisnis sehebat apapun akan sulit jadi kenyataan. Yah, seperti halnya, kita belajar setir mobil. Kalau kita hanya tahu teorinya, tapi tak pernah mencoba atau mempraktekkannya, tentu tetap tidak bisa setir mobil.
Jadi, saya kira, persoalannya adalah terletak pada, bagaimana kita yang semula hanya kaya teori atau hanya sekadar bermain logika atau istilah lainnya hanya mengandalkan otak kiri, kemudian bisa berpikir atau bertindak dengan otak kanan, Saya yakin, jika kita mampu juga menggunakan otak kanan, maka seperti pada saat kita setir mobil. Serba otomatis, tidak lagi harus dipikir, semua sudah di bawah sadar kita.
Kalau pun, di saat kita praktek setir mobil atau mempraktekkan teori kita itu, terjadi berbagai kendala, seperti: di saat kita memasukkan mobil ke garasi, mobil kita sedikit rusak karena nyenggol pagar misalnya, saya kira nggak masalah. Begitu juga, ketika kita kecil belajar bersepeda, mengalami jatuh beberapa kali, itu sudah biasa. Tapi, akhirnya, bisa juga kita naik sepeda. Artinya, kita baru bisa naik sepeda setelah pernah mengalami jatuh beberapa kali.
Di bisnis, saya kira itu juga sama. Kita harus ada keberanian untuk jatuh dan bangun. Sebaliknya, kalau tidak ada keberanian seperti itu, bisnis sekecil apapun tak akan ada. Dan, kalau kita biarkan ide bisnis itu, akibatnya kita hanya kaya ide bisnis, tapi miskin duitnya. Saya yakin, engan keberanian itulah akan mendatangkan duit. Oleh karena itulah, menurut hemat saya, lebih baik kita berani mencoba dan gagal dari pada gagal mencoba. Anda berani mencoba?
Sumber: www.entrepreneuruniversity.co.id
Ada sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta “Entrepreneur University” angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana pekan lalu. “Saya begitu banyak sekali ide bisnis, tapi nyatanya tak ada satu pun ide bisnis itu terealisir. Akibabnya, saya hanya sekadar kaya ide, tapi bisnis tak ada?”, tanya peserta yang kebetulan ibu-rumah tangga itu.
Saya kira, pertanyaan atau kejadian seperti itu tak hanya dialami oleh ibu tadi, tapi juga cukup banyak dialami oleh kita semua, bahwa yang namanya ide bisnis itu adaada saja. Tapi, yah hanya sekadar ide bisnis, sementara bisnisnya nol atau tak terwujud sama sekali. Terkadang ide yang tidak kita realisir justru sudah dicoba lebih dulu oleh orang lain. Dalam konteks ini, saya berpendapat, sebenarnya untuk membuat bisnis, memang dibutuhkan ide. Hanya saja, karena kita hanya kaya ide, namun miskin keberanian untuk mencobanya, maka yang berkembang adalah idenya, sedang bisnisnya nol.
Menurut saya, miskinnya keberanian itu bermula ketika kita mendapat pendidikan di sekolah atau di bangku kuliah, yang kita dapat hanyalah teori semata. Jadi, kita terlalu banyak berteori, tapi miskin praktek. Akibatnya, ketika kita kaya ide, miskin keberanian. Artinya, kalau kita hanya menguasai teori, namun kalau tidak bisa dipraktekkan, maka ide bisnis sehebat apapun akan sulit jadi kenyataan. Yah, seperti halnya, kita belajar setir mobil. Kalau kita hanya tahu teorinya, tapi tak pernah mencoba atau mempraktekkannya, tentu tetap tidak bisa setir mobil.
Jadi, saya kira, persoalannya adalah terletak pada, bagaimana kita yang semula hanya kaya teori atau hanya sekadar bermain logika atau istilah lainnya hanya mengandalkan otak kiri, kemudian bisa berpikir atau bertindak dengan otak kanan, Saya yakin, jika kita mampu juga menggunakan otak kanan, maka seperti pada saat kita setir mobil. Serba otomatis, tidak lagi harus dipikir, semua sudah di bawah sadar kita.
Kalau pun, di saat kita praktek setir mobil atau mempraktekkan teori kita itu, terjadi berbagai kendala, seperti: di saat kita memasukkan mobil ke garasi, mobil kita sedikit rusak karena nyenggol pagar misalnya, saya kira nggak masalah. Begitu juga, ketika kita kecil belajar bersepeda, mengalami jatuh beberapa kali, itu sudah biasa. Tapi, akhirnya, bisa juga kita naik sepeda. Artinya, kita baru bisa naik sepeda setelah pernah mengalami jatuh beberapa kali.
Di bisnis, saya kira itu juga sama. Kita harus ada keberanian untuk jatuh dan bangun. Sebaliknya, kalau tidak ada keberanian seperti itu, bisnis sekecil apapun tak akan ada. Dan, kalau kita biarkan ide bisnis itu, akibatnya kita hanya kaya ide bisnis, tapi miskin duitnya. Saya yakin, engan keberanian itulah akan mendatangkan duit. Oleh karena itulah, menurut hemat saya, lebih baik kita berani mencoba dan gagal dari pada gagal mencoba. Anda berani mencoba?
Sumber: www.entrepreneuruniversity.co.id
28 September 2010
KISAH SUKSES: Mantan Pemulung yang Kini Memiliki Pabrik
Kucuran keringat dan rasa malu menjadi pemulung tak dia hiraukan karena keyakinan untuk meraih sukses.
Menjadi mahasiswa jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), tak membuat John Pieter malu dan risih untuk memungut serta mengumpulkan sampah plastik yang banyak berserakan di belakang kosnya di kawasan Geger Kalong Tengah, Kota Bandung, Jawa Barat.
Sampah-sampah plastik itulah yang menginspirasinya untuk membuka usaha pada 1987. Pada awal memulai usaha John berpikiran, jika dibandingkan harga gabah yang saat itu Rp600 per kg, harga limbah plastik di tingkat pengepul sudah mencapai Rp1.000 per kg.
Saat itu dia memantapkan diri untuk memulai bisnis daur ulang sampah plastik sambil tetap kuliah. Menurut John, seorang pengusaha sejati harus memiliki sifat visioner, memandang jauh ke depan, ditambah keyakinan diri pada usaha yang dilakukannya.
“Melihat perbandingan harganya yang begitu besar, saat itu saya yakin bisnis ini akan menghasilkan potensi besar. Dan perlu diingat, untuk menjalankannya bisnis ini tidak memerlukan modal sama sekali. Hanya dengan catatan, buang jauh-jauh perasaan malu,” tandas John saat ditemui di ruang kerjanya di Cipamokolan, Kota Bandung, belum lama ini.
Dibarengi kerja keras dan tak kenal lelah,usahanya makin maju. Hingga suatu hari ada surat kabar nasional memberitakan sosok John sebagai pengusaha sukses yang berangkat dari pemulung sampah plastik.
Hal ini berlanjut dengan adanya tawaran kucuran modal dari Mandiri Business Banking. Sejak saat itu John resmi menjadi nasabah Mandiri Business Banking.
“Modal yang saya terima benar-benar saya gunakan untuk menjalankan roda bisnis. Saat menerima kucuran modal itu, saya sudah memiliki mesin pengolah sampah dan sarana pendukungnya hingga tempat usaha. Jadi, saya berani menerima ajakan untuk bermitra dari Mandiri Business Banking sehingga kredit modal itu bisa digunakan secara optimal,” papar John.
Dengan bantuan modal dari Mandiri Business Banking, usaha John yang menggunakan nama Peka Group semakin berkibar. Biji plastik hasil olahannya menjadi primadona pengusaha yang banyak bergerak di bidang home industry.
“Mereka membeli produk saya untuk berbagai keperluan seperti bahan baku pembuatan tali plastik, tali rafia, helm, alat-alat rumah tangga, dan lainnya,” tutur ayah dari Yediza dan Ishak ini.
Keyakinan John menggeluti bisnis pengolahan sampah plastik semakin kuat karena keinginannya untuk menjadi orang kaya. “Saya berpikiran, jika jadi pekerja, meskipun lulusan dari kampus ternama, tidak berarti memberikan jaminan bisa menjadi orang kaya. Di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya menjadi orang kaya melalui jalan yang benar,” ungkapnya.
John merasakan betul bagaimana aktivitasnya mengumpulkan satu per satu sampah plastik di halaman kosnya untuk dijual kepada pengepul. John mengungkapkan, kedua orang tuanya yang tinggal di Sumatera tidak mengetahui jika anaknya menjadi pemulung selepas kuliah.
“Tetapi, saat bertandang ke Bandung, orang tua saya pun akhirnya tahu jika selama ini saya menjadi pemulung. Saat melihat apa yang saya lakukan, mereka menangis karena sedikit pun tidak pernah terlintas dalam pikiran kedua orang tua saya jika anaknya harus memunguti sampah,” tutur lelaki asal Tanah Karo, Sumatera Utara itu.
Namun, hal itu tak menyurutkan langkah John untuk menekuni usaha yang telah dia rintis. Usahanya sedikit demi sedikit terus mengalami kemajuan dan dia memberanikan diri meminjam modal pada temannya sebesar Rp4 juta.
Dengan modal tersebut, akhirnya John menjadi seorang pengepul dan memindahkan tempat usahanya ke kawasan Cikutra, Kota Bandung. Di Cikutra John menyiapkan tempat khusus yang bisa ditinggali pemulung.
Namun, dia sering meninggalkan tempat usahanya karena harus kuliah dan kadang mengajar. Untuk itu, dia pun memercayakan kepada seseorang.
“Tanpa sepengetahuan saya, ternyata pemulung yang kerap tidur dan makan bersama itu menohok dari belakang. Sampah plastik yang sudah saya bayar kembali diambil. Modal saya pun habis,” kenangnya.
Kegagalan itu diakui John sebagai pengalaman paling berharga. Sebab, sejak kejadian itu, dia memutuskan untuk fokus menekuni bisnisnya. Aktivitas mengajar pun akhirnya dia lepaskan dan tempat usaha tersebut hanya ditinggalkan saat John kuliah.
John pun memantapkan diri menjadi pengusaha limbah plastik. Bisnis jual beli limbah plastiknya terus berkembang hingga bisa mempekerjakan tiga orang karyawan. Sadar usahanya terus berkembang pesat, setelah menyelesaikan kuliah John benar-benar tak ingin mencari pekerjaan sesuai ilmu yang dia peroleh di ITB.
Suami Ninik Maryani ini tetap berkeyakinan, usaha limbah plastik bisa mengantarkannya menjadi orang kaya. Selama ini John selalu berusaha menghasilkan produk yang berkualitas. Diawali dengan pemilahan, sampah plastik mengalami beberapa kali proses pembersihan untuk menghilangkan kotoran yang menempel.
Setelah itu, sampah plastik itu dipotong-potong kecil hingga akhirnya kembali dipisahkan berdasarkan titik lelehan melalui proses pemanasan. Ditanya nilai omzetnya kini, John tidak bersedia mengungkapkan. Begitu pula dengan total aset yang dia miliki. “Lumayan lah, yang pasti usaha ini hingga kini terus berkembang,” kata John singkat.
Kini, setelah lebih dari 20 tahun menjalankan usaha limbah plastik, John menyerahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk mengelola. John juga telah membuka cabang usaha biji plastik di Makassar, Medan, dan Banjarmasin.
Selain itu, dia juga mendirikan pabrik pengolahan biji plastik di kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. “Hasil produksi di beberapa daerah tersebut semua dikirim ke Bantar Gebang,” katanya.
Banyaknya cabang itu sampai membuat John tak tahu persis berapa jumlah seluruh karyawannya. Tidak ketinggalan, John melibatkan sang istri yang juga teman satu almamaternya ikut berperan dalam memajukan usaha limbah plastik.
Bahkan, sejak tiga tahun lalu Ninik mengelola sebuah koperasi mikro yang bisa memberikan pinjaman modal usaha bagi para pemulung dan warga biasa dengan bunga sangat rendah. Selain itu, John dan istrinya memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pemulung dan warga sekitarnya.
Sumber: Koran sindo
Dapatkan artikel KISAH SUKSES lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
Menjadi mahasiswa jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), tak membuat John Pieter malu dan risih untuk memungut serta mengumpulkan sampah plastik yang banyak berserakan di belakang kosnya di kawasan Geger Kalong Tengah, Kota Bandung, Jawa Barat.
Sampah-sampah plastik itulah yang menginspirasinya untuk membuka usaha pada 1987. Pada awal memulai usaha John berpikiran, jika dibandingkan harga gabah yang saat itu Rp600 per kg, harga limbah plastik di tingkat pengepul sudah mencapai Rp1.000 per kg.
Saat itu dia memantapkan diri untuk memulai bisnis daur ulang sampah plastik sambil tetap kuliah. Menurut John, seorang pengusaha sejati harus memiliki sifat visioner, memandang jauh ke depan, ditambah keyakinan diri pada usaha yang dilakukannya.
“Melihat perbandingan harganya yang begitu besar, saat itu saya yakin bisnis ini akan menghasilkan potensi besar. Dan perlu diingat, untuk menjalankannya bisnis ini tidak memerlukan modal sama sekali. Hanya dengan catatan, buang jauh-jauh perasaan malu,” tandas John saat ditemui di ruang kerjanya di Cipamokolan, Kota Bandung, belum lama ini.
Dibarengi kerja keras dan tak kenal lelah,usahanya makin maju. Hingga suatu hari ada surat kabar nasional memberitakan sosok John sebagai pengusaha sukses yang berangkat dari pemulung sampah plastik.
Hal ini berlanjut dengan adanya tawaran kucuran modal dari Mandiri Business Banking. Sejak saat itu John resmi menjadi nasabah Mandiri Business Banking.
“Modal yang saya terima benar-benar saya gunakan untuk menjalankan roda bisnis. Saat menerima kucuran modal itu, saya sudah memiliki mesin pengolah sampah dan sarana pendukungnya hingga tempat usaha. Jadi, saya berani menerima ajakan untuk bermitra dari Mandiri Business Banking sehingga kredit modal itu bisa digunakan secara optimal,” papar John.
Dengan bantuan modal dari Mandiri Business Banking, usaha John yang menggunakan nama Peka Group semakin berkibar. Biji plastik hasil olahannya menjadi primadona pengusaha yang banyak bergerak di bidang home industry.
“Mereka membeli produk saya untuk berbagai keperluan seperti bahan baku pembuatan tali plastik, tali rafia, helm, alat-alat rumah tangga, dan lainnya,” tutur ayah dari Yediza dan Ishak ini.
Keyakinan John menggeluti bisnis pengolahan sampah plastik semakin kuat karena keinginannya untuk menjadi orang kaya. “Saya berpikiran, jika jadi pekerja, meskipun lulusan dari kampus ternama, tidak berarti memberikan jaminan bisa menjadi orang kaya. Di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya menjadi orang kaya melalui jalan yang benar,” ungkapnya.
John merasakan betul bagaimana aktivitasnya mengumpulkan satu per satu sampah plastik di halaman kosnya untuk dijual kepada pengepul. John mengungkapkan, kedua orang tuanya yang tinggal di Sumatera tidak mengetahui jika anaknya menjadi pemulung selepas kuliah.
“Tetapi, saat bertandang ke Bandung, orang tua saya pun akhirnya tahu jika selama ini saya menjadi pemulung. Saat melihat apa yang saya lakukan, mereka menangis karena sedikit pun tidak pernah terlintas dalam pikiran kedua orang tua saya jika anaknya harus memunguti sampah,” tutur lelaki asal Tanah Karo, Sumatera Utara itu.
Namun, hal itu tak menyurutkan langkah John untuk menekuni usaha yang telah dia rintis. Usahanya sedikit demi sedikit terus mengalami kemajuan dan dia memberanikan diri meminjam modal pada temannya sebesar Rp4 juta.
Dengan modal tersebut, akhirnya John menjadi seorang pengepul dan memindahkan tempat usahanya ke kawasan Cikutra, Kota Bandung. Di Cikutra John menyiapkan tempat khusus yang bisa ditinggali pemulung.
Namun, dia sering meninggalkan tempat usahanya karena harus kuliah dan kadang mengajar. Untuk itu, dia pun memercayakan kepada seseorang.
“Tanpa sepengetahuan saya, ternyata pemulung yang kerap tidur dan makan bersama itu menohok dari belakang. Sampah plastik yang sudah saya bayar kembali diambil. Modal saya pun habis,” kenangnya.
Kegagalan itu diakui John sebagai pengalaman paling berharga. Sebab, sejak kejadian itu, dia memutuskan untuk fokus menekuni bisnisnya. Aktivitas mengajar pun akhirnya dia lepaskan dan tempat usaha tersebut hanya ditinggalkan saat John kuliah.
John pun memantapkan diri menjadi pengusaha limbah plastik. Bisnis jual beli limbah plastiknya terus berkembang hingga bisa mempekerjakan tiga orang karyawan. Sadar usahanya terus berkembang pesat, setelah menyelesaikan kuliah John benar-benar tak ingin mencari pekerjaan sesuai ilmu yang dia peroleh di ITB.
Suami Ninik Maryani ini tetap berkeyakinan, usaha limbah plastik bisa mengantarkannya menjadi orang kaya. Selama ini John selalu berusaha menghasilkan produk yang berkualitas. Diawali dengan pemilahan, sampah plastik mengalami beberapa kali proses pembersihan untuk menghilangkan kotoran yang menempel.
Setelah itu, sampah plastik itu dipotong-potong kecil hingga akhirnya kembali dipisahkan berdasarkan titik lelehan melalui proses pemanasan. Ditanya nilai omzetnya kini, John tidak bersedia mengungkapkan. Begitu pula dengan total aset yang dia miliki. “Lumayan lah, yang pasti usaha ini hingga kini terus berkembang,” kata John singkat.
Kini, setelah lebih dari 20 tahun menjalankan usaha limbah plastik, John menyerahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk mengelola. John juga telah membuka cabang usaha biji plastik di Makassar, Medan, dan Banjarmasin.
Selain itu, dia juga mendirikan pabrik pengolahan biji plastik di kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. “Hasil produksi di beberapa daerah tersebut semua dikirim ke Bantar Gebang,” katanya.
Banyaknya cabang itu sampai membuat John tak tahu persis berapa jumlah seluruh karyawannya. Tidak ketinggalan, John melibatkan sang istri yang juga teman satu almamaternya ikut berperan dalam memajukan usaha limbah plastik.
Bahkan, sejak tiga tahun lalu Ninik mengelola sebuah koperasi mikro yang bisa memberikan pinjaman modal usaha bagi para pemulung dan warga biasa dengan bunga sangat rendah. Selain itu, John dan istrinya memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pemulung dan warga sekitarnya.
Sumber: Koran sindo
Dapatkan artikel KISAH SUKSES lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
02 September 2010
Seberapa Mahal Harga Pekerjaan Anda ?
Pada akhirnya kita semua bekerja untuk merenggut sejumput nafkah. Disana yang segera terbentang adalah berapa penghasilan yang bisa kita bungkus dan bawa pulang setiap akhir bulan tiba. Receh demi receh kita dekap setelah sebulan lamanya kita memeras peluh, berjibaku menggantang pikiran dan menebarkan segenap dedikasi.
Pertanyaannya adalah : apakah gaji atau penghasilan yang kita ringkus setiap bulan demi anak dan keluarga sudah cukup memadai? Apakah jumlahnya sudah sebanding dengan pekerjaan yang hari demi hari kita lakoni dengan sepenuh asa dan pengabdian? Atau sebenarnya berapa sih harga yang paling pantas untuk pekerjaan kita?
Pertanyaan tentang harga sebuah pekerjaan dikenal pula dengan sebutan measuring job value. Inilah sebuah konsep yang hendak memberi informasi mengenai berapa harga yang paling tepat untuk sebuah jabatan. Proses untuk menelisik job value kemudian sering disebut sebagai job evaluation. Istilah ini merujuk pada sebuah ikhtiar untuk mengevaluasi segenap komponen yang melekat dalam suatu jabatan, dan kemudian menghitung berapa harga yang paling pantas untuk pekerjaan itu.
Untuk melakukan job evaluation, biasanya kita mesti menetapkan dulu sejumlah kriteria baku yang akan digunakan untuk menghitung harga sebuah jabatan. Kriteria ini biasanya berjumlah antara empat hingga lima faktor, dan lazim juga disebut sebagai compensable factors.
Berikut ini akan coba dipetakan contoh empat compensable factors yang acap digunakan sebagai kriteria untuk menilai value sebuah jabatan. Faktor yang pertama biasanya berkaitan dengan aspek kompetensi teknis yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Makin tinggi kualifikasi yang dibutuhkan, tentu makin mahal harga jabatan itu.
Faktor yang kedua adalah job complexity. Aspek ini merujuk pada sejauh mana level kompleksitas yang dibutuhkan dalam mengelola suatu jabatan. Kompleksitas disini mengacu baik pada aspek teknis operasional ataupun dalam aspek konsep dan kedalaman analisa untuk menuntaskan sebuah pekerjaan.
Faktor yang ketiga adalah impact of decisions. Apakah dampak keputusan yang dihasilkan oleh jabatan ini bersifat signifikan dan lintas sektoral ataukah hanya sekedar punya pengaruh yang terbatas? Disini yang diuji adalah seberapa ekspansif dampak keputusan yang dihasilkan oleh sebuah jabatan.
Faktor yang keempat adalah responsibility of others. Disini yang diuji adalah rentang kendali dan tanggung jawab dari suatu jabatan. Apakah ia memiliki jumlah anak buah yang banyak dan masing-masing memiliki jenis pekerjaan yang variatif; atau sebaliknya? Dan sampai dimana tingkat otoritas dan tanggungjawab jabatan ini dalam menggerakkan orang lain.
Demikianlah, berdasar empat faktor diatas lantas dihitung nilai setiap jabatan yang ada dalam organisasi; biasanya mewujud dalam skala skor. Masing-masing skala skor ini juga disertai dengan deskripsi yang jelas dan terukur sehingga proses penghitungan menjadi lebih obyektif. Berdasar hasil skor inilah kemudian dipetakan berapa harga setiap jabatan yang ada di organisasi itu. Dari sinilah kemudian akan muncul skala gaji yang berbeda untuk setiap jabatan.
Sejatinya, makin tinggi skor sebuah jabatan tentu akan makin mahal harganya, dan tentu kian besar pula gaji yang bisa dibawa pulang. Meski demikian segera harus dikatakan bahwa hal ini sangat tergantung dengan 1) kondisi keuangan perusahaan dan 2) kebijakan manajamen dan pemilik perusahaan (baca : tergantung pelit tidaknya, atau serakah tidaknya sang pemilik perusahaan).
Tempo hari, salah seorang klien saya bilang kalau gaji Manajer SDM di perusahaannya berkisar pada angka Rp 25 juta per bulan, sementara menurut dia gaji Manajer SDM di perusahaan kompetitor hanyalah sekitar Rp 15 juta per bulan. Padahal kedua perusahaan ini punya bisnis yang sama, skala yang sama, dan job des Manajer SDM di kedua perusahaan itu sama persis. Tentu ini terjadi karena mungkin kondisi keuangan kedua perusahaan itu berbeda, atau mungkin juga pemilik kedua perusahaan itu punya kebijakan yang berlainan. Atau ada kemungkinan yang lain : ini memang sudah suratan takdir (doh!)
Jadi kembali pada pertanyaan judul tulisan ini : apakah pekerjaan Anda sekarang sudah dinilai dengan harga yang pas, atau terlalu murah? Alias di-diskon gede-gedan? Kalau pekerjaan Anda diobral terlalu murah, ya ndak usah terus bersedih dan tenggelam dalam duka lara.
Keep on moving. Have a positive mindset. Sebab esok kan masih ada harapan.
Written by: Yodhia Antariksa
Sumber: strategimanajemen.net
Dapatkan artikel MANAJEMEN lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
Pertanyaannya adalah : apakah gaji atau penghasilan yang kita ringkus setiap bulan demi anak dan keluarga sudah cukup memadai? Apakah jumlahnya sudah sebanding dengan pekerjaan yang hari demi hari kita lakoni dengan sepenuh asa dan pengabdian? Atau sebenarnya berapa sih harga yang paling pantas untuk pekerjaan kita?
Pertanyaan tentang harga sebuah pekerjaan dikenal pula dengan sebutan measuring job value. Inilah sebuah konsep yang hendak memberi informasi mengenai berapa harga yang paling tepat untuk sebuah jabatan. Proses untuk menelisik job value kemudian sering disebut sebagai job evaluation. Istilah ini merujuk pada sebuah ikhtiar untuk mengevaluasi segenap komponen yang melekat dalam suatu jabatan, dan kemudian menghitung berapa harga yang paling pantas untuk pekerjaan itu.
Untuk melakukan job evaluation, biasanya kita mesti menetapkan dulu sejumlah kriteria baku yang akan digunakan untuk menghitung harga sebuah jabatan. Kriteria ini biasanya berjumlah antara empat hingga lima faktor, dan lazim juga disebut sebagai compensable factors.
Berikut ini akan coba dipetakan contoh empat compensable factors yang acap digunakan sebagai kriteria untuk menilai value sebuah jabatan. Faktor yang pertama biasanya berkaitan dengan aspek kompetensi teknis yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Makin tinggi kualifikasi yang dibutuhkan, tentu makin mahal harga jabatan itu.
Faktor yang kedua adalah job complexity. Aspek ini merujuk pada sejauh mana level kompleksitas yang dibutuhkan dalam mengelola suatu jabatan. Kompleksitas disini mengacu baik pada aspek teknis operasional ataupun dalam aspek konsep dan kedalaman analisa untuk menuntaskan sebuah pekerjaan.
Faktor yang ketiga adalah impact of decisions. Apakah dampak keputusan yang dihasilkan oleh jabatan ini bersifat signifikan dan lintas sektoral ataukah hanya sekedar punya pengaruh yang terbatas? Disini yang diuji adalah seberapa ekspansif dampak keputusan yang dihasilkan oleh sebuah jabatan.
Faktor yang keempat adalah responsibility of others. Disini yang diuji adalah rentang kendali dan tanggung jawab dari suatu jabatan. Apakah ia memiliki jumlah anak buah yang banyak dan masing-masing memiliki jenis pekerjaan yang variatif; atau sebaliknya? Dan sampai dimana tingkat otoritas dan tanggungjawab jabatan ini dalam menggerakkan orang lain.
Demikianlah, berdasar empat faktor diatas lantas dihitung nilai setiap jabatan yang ada dalam organisasi; biasanya mewujud dalam skala skor. Masing-masing skala skor ini juga disertai dengan deskripsi yang jelas dan terukur sehingga proses penghitungan menjadi lebih obyektif. Berdasar hasil skor inilah kemudian dipetakan berapa harga setiap jabatan yang ada di organisasi itu. Dari sinilah kemudian akan muncul skala gaji yang berbeda untuk setiap jabatan.
Sejatinya, makin tinggi skor sebuah jabatan tentu akan makin mahal harganya, dan tentu kian besar pula gaji yang bisa dibawa pulang. Meski demikian segera harus dikatakan bahwa hal ini sangat tergantung dengan 1) kondisi keuangan perusahaan dan 2) kebijakan manajamen dan pemilik perusahaan (baca : tergantung pelit tidaknya, atau serakah tidaknya sang pemilik perusahaan).
Tempo hari, salah seorang klien saya bilang kalau gaji Manajer SDM di perusahaannya berkisar pada angka Rp 25 juta per bulan, sementara menurut dia gaji Manajer SDM di perusahaan kompetitor hanyalah sekitar Rp 15 juta per bulan. Padahal kedua perusahaan ini punya bisnis yang sama, skala yang sama, dan job des Manajer SDM di kedua perusahaan itu sama persis. Tentu ini terjadi karena mungkin kondisi keuangan kedua perusahaan itu berbeda, atau mungkin juga pemilik kedua perusahaan itu punya kebijakan yang berlainan. Atau ada kemungkinan yang lain : ini memang sudah suratan takdir (doh!)
Jadi kembali pada pertanyaan judul tulisan ini : apakah pekerjaan Anda sekarang sudah dinilai dengan harga yang pas, atau terlalu murah? Alias di-diskon gede-gedan? Kalau pekerjaan Anda diobral terlalu murah, ya ndak usah terus bersedih dan tenggelam dalam duka lara.
Keep on moving. Have a positive mindset. Sebab esok kan masih ada harapan.
Written by: Yodhia Antariksa
Sumber: strategimanajemen.net
Dapatkan artikel MANAJEMEN lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
29 August 2010
INSPIRASI & MOTIVASI: Dengan Otak Kanan Mengubah Musibah Jadi Barokah
Dalam bisnis, laju dan majunya perusahaan terkadang tergantung dari sudut mana kita melihat suatu peristiwa yang kita alami dalam menjalankan usaha kita sehari-hari. Hal itu pula yang saya alami dalam 25 tahun terakhir ini, jangan dikira, sebelum akhirnya memiliki 600-an cabang Primagama dan membuka puluhan usaha lain, banyak sekali moment bisnis saya alami dengan beragam peristiwa tragis. Akan tetapi hal itu justru mempertajam intuisi kita dalam mengembangkan usaha. Cerita berikut bisa menjadi pengalaman bagi Anda betapa suatu tragedi terkadang tak selamanya jadi halangan untuk mengembangkan usaha.
Dulu, ketika saya mengembangkan cabang baru Primagama di kota Solo, ada satu tragedi menarik yang bisa saya ceritakan. Kisahnya bermula dari mencari tempat usaha. Setelah survey sana-sini, kami menemukan lokasi strategis untuk cabang pertama Primagama di Solo, yakni sebuah rumah di Jalan Honggowongso. Akan tetapi kondisi rumah tidak siap pakai, esok harinya saya perintahkan tukang untuk membawa perlengkapan bangunan dan pertukangan untuk merenovasi rumah itu. Semua perlengkapan dibawa dengan colt pick up dari Yogjakarta menuju Solo.
Rupanya dalam perjalanan ke Solo, di Klaten, mobil pengangkut material itu malah menabrak pohon, barang bawaan jadi rusak dan hancur. Saya sempat marah dengan sopir waktu itu. “Memangnya kamu tidak melihat ada pohon nyebrang jalan kok sampai kamu tabrak?” kejadian itu memang sempat menjadi diskusi di kantor Primagama Yogja. Itu pertanda buruk, jangan buka cabang di Solo dulu, itu musibah yang kata orang Jawa malati, bawa sial. Jadi sebaiknya ditunda dulu keinginan buka cabang di Solo, sebelum juga mulai tapi sudah terjadi musibah, begitu komentar banyak teman kantor.
Tapi waktu itu, dengan pola pikir otak kanan, saya justru punya pandangan lain. Daya intuisi dan kreasi saya pun tergerak. Kasus tabrakan itu dalam pandangan otak kanan saya justru ujian dalam bisnis. Dan biasanya ujian itu adalah harga tebusan untuk meraih sukses yang lebih besar, kalau belum-belum sudah kena musibah, saya yakin Tuhan justru menjanjikan barokah rezeki besar menanti di depan kalau kita berhasil melaluinya. Oleh karena itu, saya perintahkan untuk jalan terus dan tetap membuka cabang Primagama Solo.
Alhamdulillah, intuisi otak kanan dalam melihat peluang bisnis saya tak keliru. Justru sampai sekarang di Solo yang kini sudah menjadi hampir 19 outlet bimbingan, menjadi salah satu outlet Primagama paling gemuk dan paling banyak siswanya. Coba, kalau dahulu saya memenuhi saran banyak orang untuk membatalkan buka cabang di Solo, cerita sukses dari cabang Solo tak akan terjadi.
Dalam mind set otak kanan, tidak ikut arus dan berani menentang pola pikir lama yang menjadi keyakinan banyak orang. Boleh jadi, saat melihat musibah yang kita hadapi dalam perjalanan bisnis dengan cara pandang yang berbeda, bisa jadi kunci sukses kita. Tak jarang justru musibah bisa berbuah barokah! Untuk itu, saya selalu menyarankan kepada banyak teman, kalau memang kita yakin pada intuisi kita bahwa apa yang kita lakukan benar dan akan mencapai sukses, kita harus menjalani target bisnis kita dengan ngundung (keteguhan hati – istilah Jawa). Ya, kalau memang sudah mau, ya harus dilakukan dengan keteguhan hati.
Satu lagi bukti, bahwa keyakinan dan optimisme yang menjadi intuisi, mengantar kita menuju sukses bisnis. Beberapa tahun lalu ketika saya membuka sekolah Entrepreneur University dengan konsep tanpa nilai, tanpa ujian dan diwisuda setelah siswa terbukti berhasil menjadi pengusaha itu sempat membuat Dirjen Dikti keberatan dan mengirimkan surat teguran kepada saya. Intinya saya tidak diperbolehkan menggunakan istilah University pada sekolah entrepreneur itu. Oleh karena untuk menggunakan istilah University harus banyak aturan formal yang dipenuhi.
Saya tidak takut dengan teguran itu. Dengan santun saya balas surat teguran itu dan di surat tersebut saya jelaskan bahkan University dalam Entrepreneur University itu hanya sebuah nama. Apalah artinya sebuah nama. Karena, argument saya, Laksamana Sukardi juga bukan seorang laksamana dan Christine Hakim juga bukan seorang hakim pengadilan. Alhamdulillah sampai sekarang surat teguran itu juga tak dibalas lagi dan sampai sekarang EU sudah berkembang di banyak kota di Indonesia. Dan telah melahirkan ribuan pengusaha baru yang jauh lebih berguna bagi bangsa ini, daripada banyak lulusan universitas-universitas pada umumnya. Otak kanan kembali membuktikan bisa mengubah bencan atau ancaman, justru menjadi peluang yang gemilang.
Penulis : Purdi E. Chandra (Owner Primagama)
Dapatkan artikel INSPIRASI & MOTIVASI lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
Dulu, ketika saya mengembangkan cabang baru Primagama di kota Solo, ada satu tragedi menarik yang bisa saya ceritakan. Kisahnya bermula dari mencari tempat usaha. Setelah survey sana-sini, kami menemukan lokasi strategis untuk cabang pertama Primagama di Solo, yakni sebuah rumah di Jalan Honggowongso. Akan tetapi kondisi rumah tidak siap pakai, esok harinya saya perintahkan tukang untuk membawa perlengkapan bangunan dan pertukangan untuk merenovasi rumah itu. Semua perlengkapan dibawa dengan colt pick up dari Yogjakarta menuju Solo.
Rupanya dalam perjalanan ke Solo, di Klaten, mobil pengangkut material itu malah menabrak pohon, barang bawaan jadi rusak dan hancur. Saya sempat marah dengan sopir waktu itu. “Memangnya kamu tidak melihat ada pohon nyebrang jalan kok sampai kamu tabrak?” kejadian itu memang sempat menjadi diskusi di kantor Primagama Yogja. Itu pertanda buruk, jangan buka cabang di Solo dulu, itu musibah yang kata orang Jawa malati, bawa sial. Jadi sebaiknya ditunda dulu keinginan buka cabang di Solo, sebelum juga mulai tapi sudah terjadi musibah, begitu komentar banyak teman kantor.
Tapi waktu itu, dengan pola pikir otak kanan, saya justru punya pandangan lain. Daya intuisi dan kreasi saya pun tergerak. Kasus tabrakan itu dalam pandangan otak kanan saya justru ujian dalam bisnis. Dan biasanya ujian itu adalah harga tebusan untuk meraih sukses yang lebih besar, kalau belum-belum sudah kena musibah, saya yakin Tuhan justru menjanjikan barokah rezeki besar menanti di depan kalau kita berhasil melaluinya. Oleh karena itu, saya perintahkan untuk jalan terus dan tetap membuka cabang Primagama Solo.
Alhamdulillah, intuisi otak kanan dalam melihat peluang bisnis saya tak keliru. Justru sampai sekarang di Solo yang kini sudah menjadi hampir 19 outlet bimbingan, menjadi salah satu outlet Primagama paling gemuk dan paling banyak siswanya. Coba, kalau dahulu saya memenuhi saran banyak orang untuk membatalkan buka cabang di Solo, cerita sukses dari cabang Solo tak akan terjadi.
Dalam mind set otak kanan, tidak ikut arus dan berani menentang pola pikir lama yang menjadi keyakinan banyak orang. Boleh jadi, saat melihat musibah yang kita hadapi dalam perjalanan bisnis dengan cara pandang yang berbeda, bisa jadi kunci sukses kita. Tak jarang justru musibah bisa berbuah barokah! Untuk itu, saya selalu menyarankan kepada banyak teman, kalau memang kita yakin pada intuisi kita bahwa apa yang kita lakukan benar dan akan mencapai sukses, kita harus menjalani target bisnis kita dengan ngundung (keteguhan hati – istilah Jawa). Ya, kalau memang sudah mau, ya harus dilakukan dengan keteguhan hati.
Satu lagi bukti, bahwa keyakinan dan optimisme yang menjadi intuisi, mengantar kita menuju sukses bisnis. Beberapa tahun lalu ketika saya membuka sekolah Entrepreneur University dengan konsep tanpa nilai, tanpa ujian dan diwisuda setelah siswa terbukti berhasil menjadi pengusaha itu sempat membuat Dirjen Dikti keberatan dan mengirimkan surat teguran kepada saya. Intinya saya tidak diperbolehkan menggunakan istilah University pada sekolah entrepreneur itu. Oleh karena untuk menggunakan istilah University harus banyak aturan formal yang dipenuhi.
Saya tidak takut dengan teguran itu. Dengan santun saya balas surat teguran itu dan di surat tersebut saya jelaskan bahkan University dalam Entrepreneur University itu hanya sebuah nama. Apalah artinya sebuah nama. Karena, argument saya, Laksamana Sukardi juga bukan seorang laksamana dan Christine Hakim juga bukan seorang hakim pengadilan. Alhamdulillah sampai sekarang surat teguran itu juga tak dibalas lagi dan sampai sekarang EU sudah berkembang di banyak kota di Indonesia. Dan telah melahirkan ribuan pengusaha baru yang jauh lebih berguna bagi bangsa ini, daripada banyak lulusan universitas-universitas pada umumnya. Otak kanan kembali membuktikan bisa mengubah bencan atau ancaman, justru menjadi peluang yang gemilang.
Penulis : Purdi E. Chandra (Owner Primagama)
Dapatkan artikel INSPIRASI & MOTIVASI lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/
21 August 2010
Membobol Batas Kemampuan
Dunia seakan runtuh, ketika kecelakaan lalu lintas itu terjadi. Setelah
pingsan beberapa saat, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada fungsi kaki
kanannya. Kaki itu seperti tidak bertenaga.
Sejak saat itu, ia terpaksa melepas pekerjaannya. Kedua orang-tuanya
berusaha menyembuhkan kelainan itu. Mulai dari upaya medis sampai non medis.
Semua itu menghabiskan biaya seharga sebuah rumah di kawasan Bekasi.
Sayangnya, upaya habis-habisan itu tidak membawa hasil. Kakinya tetap tidak
bisa berfungsi normal.
Jujur, saat itu ia sangat menyesali kejadian yang merenggut fungsi kakinya
itu. Ia menganggap, kemampuannya mengarungi kehidupan jadi terbatas. Dan
akibatnya, kehidupannya jadi terbatas. Selama beberapa tahun, ia hanya
mengurung diri di rumah.
Syukur lah, Tuhan mengulurkan tanganNya. Ketika satu pintu tertutup, Ia
membuka pintu-pintu lainnya. Pelajaran elektronika yang pernah dipelajari di
waktu sekolah, ditekuni kembali. Ia mulai berani membongkar radio dan
televisi rusak, dan mencoba memperbaikinya. Dan berhasil.
Dan bola salju pun menggelinding semakin besar. Ia mulai berani menerima
order dari tetangga kiri-kanan dengan tarif terserah pemberi order. Seiring
berjalannya waktu, ia mulai berani membuka usaha sendiri. Dari kios servis
yang dikelolanya sendiri, ia bisa menghidupi dirinya sendiri.
Itulah paruh perjalanan hidup seorang Yanto, salah satu alumni 'Kelas Jauh'
Institut Kemandirian di Pademangan, yang bisa berlangsung atas kerjasama
dengan Actual Basicnya Kang Roni Yuzirman, dan TDA Pusat. Untuk menambah
pengetahuannya, ia ikut training teknisi ponsel. Ia belajar dari kami,
tetapi kami belajar lebih banyak darinya.
Belajar soal semangat hidup keluar dari keterbatasan. Belajar untuk
terus-menerus membobol batas kemampuan.
Mungkin Tuhan tidak memberi kita tangan, tapi jangan anggap bahwa itu batas
dariNya agar kita tidak bisa menulis. Dalam banyak perjalanan, saya bertemu
dengan orang-orang yang menulis dengan jari kaki, atau bahkan dengan
mulutnya.
Dari sosok Yanto, saya berkeyakinan bahwa Tuhan telah memberikan segalanya
kepada manusia. Sekali lagi, segalanya, untuk kita manfaatkan. Manusia lah
yang membatasi karunia Tuhannya, dengan apa yang ia pikirkan dan ia yakini,
lewat rasa takut, malas dan malu di dalam diri, ketika akan memulai.
(Buat Yanto, sang Guru Kehidupan)
(Sudah dimuat di Harian Semarang, rubrik Inspirasi, Halaman 2, hari Sabtu,
31 Juli 2010)
Sumber: Milis TDA
pingsan beberapa saat, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada fungsi kaki
kanannya. Kaki itu seperti tidak bertenaga.
Sejak saat itu, ia terpaksa melepas pekerjaannya. Kedua orang-tuanya
berusaha menyembuhkan kelainan itu. Mulai dari upaya medis sampai non medis.
Semua itu menghabiskan biaya seharga sebuah rumah di kawasan Bekasi.
Sayangnya, upaya habis-habisan itu tidak membawa hasil. Kakinya tetap tidak
bisa berfungsi normal.
Jujur, saat itu ia sangat menyesali kejadian yang merenggut fungsi kakinya
itu. Ia menganggap, kemampuannya mengarungi kehidupan jadi terbatas. Dan
akibatnya, kehidupannya jadi terbatas. Selama beberapa tahun, ia hanya
mengurung diri di rumah.
Syukur lah, Tuhan mengulurkan tanganNya. Ketika satu pintu tertutup, Ia
membuka pintu-pintu lainnya. Pelajaran elektronika yang pernah dipelajari di
waktu sekolah, ditekuni kembali. Ia mulai berani membongkar radio dan
televisi rusak, dan mencoba memperbaikinya. Dan berhasil.
Dan bola salju pun menggelinding semakin besar. Ia mulai berani menerima
order dari tetangga kiri-kanan dengan tarif terserah pemberi order. Seiring
berjalannya waktu, ia mulai berani membuka usaha sendiri. Dari kios servis
yang dikelolanya sendiri, ia bisa menghidupi dirinya sendiri.
Itulah paruh perjalanan hidup seorang Yanto, salah satu alumni 'Kelas Jauh'
Institut Kemandirian di Pademangan, yang bisa berlangsung atas kerjasama
dengan Actual Basicnya Kang Roni Yuzirman, dan TDA Pusat. Untuk menambah
pengetahuannya, ia ikut training teknisi ponsel. Ia belajar dari kami,
tetapi kami belajar lebih banyak darinya.
Belajar soal semangat hidup keluar dari keterbatasan. Belajar untuk
terus-menerus membobol batas kemampuan.
Mungkin Tuhan tidak memberi kita tangan, tapi jangan anggap bahwa itu batas
dariNya agar kita tidak bisa menulis. Dalam banyak perjalanan, saya bertemu
dengan orang-orang yang menulis dengan jari kaki, atau bahkan dengan
mulutnya.
Dari sosok Yanto, saya berkeyakinan bahwa Tuhan telah memberikan segalanya
kepada manusia. Sekali lagi, segalanya, untuk kita manfaatkan. Manusia lah
yang membatasi karunia Tuhannya, dengan apa yang ia pikirkan dan ia yakini,
lewat rasa takut, malas dan malu di dalam diri, ketika akan memulai.
(Buat Yanto, sang Guru Kehidupan)
(Sudah dimuat di Harian Semarang, rubrik Inspirasi, Halaman 2, hari Sabtu,
31 Juli 2010)
Sumber: Milis TDA
Subscribe to:
Posts (Atom)
